JCH Makassar shalat ghaib bagi korban Lombok

id shalat ghaib, JCH Makassar, korban gempa Lombok, Makassar

Ilustrasi. Sejumlah jamaah calon haji berdoa usai melaksanakan Shalat Gaib bagi korban gempa Lombok di Masjid Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES), Surabaya, Jawa Timur, Selasa (31/7). ANTARA FOTO/Moch Asim/18.

Makassar (Antaranews Sulsel) - Jamaah calon haji (JCH) yang ada di pemondokan Asrama Haji Sudiang Makassar melaksanakan shalat ghaib untuk para korban musibah gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Para jamaah calon haji ini seusai melaksanakan shalat wajib di masjid, mereka kemudian melanjutkannya untuk shalat ghaib yang ditujukan bagi saudara-saudara kita di NTB," ujar Sekretaris PPIH Embarkasi Makassar, Kaswad Sartono di Makassar, Jumat.

Ia mengatakan para JCH baik yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 30 maupun 31 itu mendoakan para korban yang terkena musibah agar tetap kuat dan tabah dalam menghadapi ujian.

Bahkan bagi korban yang meninggal dunia didoakan agar semua amalannya diterima dan diampuni dosa-dosanya. Dan bagi kelurganya juga didoakan untuk tetap tabah.

"Kami semua yang ada di sini mendoakan para korban yang menjadi korban musibah gempa. Semoga dosa-dosa dari saudara-saudara kita yang terkena musibah bisa diampuni Allah SWT," katanya.

Berdasarkan jadwal yang dikeluarkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) terdapat dua kloter yang ada di pemondokan asrama haji Sudiang, Makassar.

Untuk kloter 30 adalah gabungan dari JCH asal Makassar dan Bulukumba. Untuk JCH asal Makassar berjumlah 37 orang dan JCH asal Kabupaten Bulukumba berjumlah 413 orang.

Sedangkan pada kloter 31 semuanya berasal dari Kabupaten Bone. JCH kloter 30 telah masuk pemondokan sehari sebelumnya atau pada Kamis (9/8) pagi dan telah berangkat pada Jumat (10/8) pukul 18.00 Wita ke Mekkah, Arab Saudi.

"Kalau kloter 30 itu sudah berangkat sore tadi. Sedangkan yang JCH kloter 31 dari Kabupaten Bone baru saja pemondokan siang tadi dan akan berangkat keesokan harinya," ucapnya.

 
Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar