DP2 Makassar pantau harga komoditas di pasar tradisional

id dp2 makassar,harga komoditas,pasar tradisonal makassar,evi apryalty,pasar toddopuli

DP2 Makassar pantau harga komoditas di pasar tradisional

Arsip. Tim Terpadu melakukan inspeksi mrndadak di pasar tradisional dan pasar modern untuk memantau produk penganan serta olahan dalam menjelang Natal dan Tahun Baru, di Makassar, Senin (17/12). (Foto ANTARA/Muh. Hasanuddin)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2) Kota Makassar di awal tahun ini rutin melakukan pemantauan harga komoditas pangan khususnya hasil perikanan di sejumlah pasar tradisional.

"Sulsel itu adalah lumbung dari berbagai komoditas, baik hasil pertanian, laut dan perkebunan. Khusus perikanan ini kita pantau terus karena ikan selalu menjadi andil dalam inflasi," ujar Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Makassar Evi Apryalty di Makassar, Sabtu.

Ia mengatakan hasil pemantauan tim DP2 Makassar diberbagai pasar tradisional diantaranya Pasar Toddopuli dan Pasar Pabaeng-baeng harga komoditas cenderung stabil utamanya produk pertanian.

Pada pemantauan itu, tim menemukan harga tomat berada di kisaran Rp18.000-Rp20.000 per kilogramnya dan cabai rawit di kisaran Rp30.000 per kilogram.

Sedangkan, produk hasil laut harganya cenderung fluktuatif. Cumi-cumi pada akhir 2018 berada pada kisaran harga Rp70. 000 per kilogram dan kini turun menjadi Rp65.000.

Sementara untuk kenaikan harga komoditas perikanan seperti ikan kembung yang sebelumnya sekitar Rp30 ribu per kilogramnya menjadi Rp35 ribu. Begitu juga dengan harga udang laut yang sebelumnya Rp50 ribu menjadi Rp55 ribu.

"Kalau ikan ini fluktuatif dan sekarang memang sedikit mahal karena ombak tinggi dan cuaca kurang mendukung sehingga harga ikan juga naik. Begitu juga dengan harga udang laut yang mengalami kenaikan sedikit," katanya.

Dia menerangka cuaca buruk yang terjadi di Makassar selama sepekan terakhir ini memang membuat para nelayan untuk beristirahat sementara sambil menunggu cuaca membaik.

Menurut dia, cuaca yang buruk menjadi indikator naiknya komoditas laut karena nelayan kebanyakan memilih beristirahat untuk beberapa hari sebelum turun melaut lagi.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar