Makassar (ANTARA News) - Sebagian besar lahan tebu untuk bahan baku dua pabrik gula di Kabupaten Bone tidak produktif karena masyarakat sekitar beralih ke tanaman jagung.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo di Makassar, Jumat , mengatakan, luas lahan tebu pabrik Gula Camming 9.000 hektare tapi yang efektif hanya 5.000 hektare.
Sementara luas lahan guna usaha Pabrik Gula Arasoe Bone 7.000 hektare dan yang efektif hanya 4000 hektare. Selebihnya hanya berupa lahan terlantar.
"Saya berharap optimalisasi lahan tebu di Bone bisa seperti Pabrik Gula Takalar yang sudah dikelola PT Rajawali Nusantara Indonesia," ujarnya. Menurutnya, jika seluruh lahannya ditanami tebu dengan optimal berarti rakyat bisa diberdayakan dan tidak ada lagi penyerobotan lahan.
Pada 2009, tiga pabrik gula di Sulsel menghasilkan 25.500 ribu ton dan diperkirakan pada 2010 produksi gula mencapai 30 ribu ton.
PT RNI pada awal Oktober 2010 mengungkapkan, target untuk meningkatkan produksi Pabrik Gula Takalar hingga dua atau tiga kali lipat pada 2011 atau 18 ribu ton. Produksinya kini telah mengalami peningkatan dari 4.000 ton menjadi 6.000 ton.
Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar usai mendengarkan pemaparan mengenai kondisi tersebut, mengatakan, kedua pabrik gula tersebut akan ditingkatkan dan dioptimalkan sepeti halnya di Takalar.
"Sekarang sedang dipelajari kalau memang menganggur akan lebih ditingkatkan hasilnya," ujarnya yang menambahkan jumlah produksi gula dari ketiga pabrik yang dimiliki Sulsel saat ini baru memenuhi 26 persen kebutuhan provinsi ini.
Ia berharap, secara bertahap produksinya dapat terus ditingkatkan hingga Sulsel dapat memberikan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan gula nasional. "Perlu mengganti varietas dan menambah rendemen serta perluasan areal tanam," tambahnya. (T.KR-RY/S016)

