Kapal Pengguna Pukat Harimau Masuk Laut Timor

id kapal nelayan, pukat harimau, laut timor

"Sekitar lima hari lalu, kami berpapasan dengan sejumlah 'trawler' dari Benoa, Bali di wilayah perairan selatan dan barat Laut Timor," kata Abdul Wahab Sidin (46), salah seorang anak buah kapal (ABK) "Pool and Line" di Kupang, Selasa, setelah pulang
Kupang (ANTARA Sulsel) - Kapal-kapal nelayan dari luar Nusa Tenggara Timur mulai masuk wilayah tangkapan nelayan di wilayah provinsi kepulauan ini dengan menggunakan pukat harimau (trawler) di Laut Timor, mengakibatkan nelayan setempat harus "gigit jari".

"Sekitar lima hari lalu, kami berpapasan dengan sejumlah 'trawler' dari Benoa, Bali di wilayah perairan selatan dan barat Laut Timor," kata Abdul Wahab Sidin (46), salah seorang anak buah kapal (ABK) "Pool and Line" di Kupang, Selasa, setelah pulang melaut.

Menurut dia mereka (yang menggunakan pukat harimau) membawa ratusan ton ikan dari Laut Timor menuju Benoa.

Ia mengatakan kapal-kapal nelayan dari Kupang yang tengah mencari ikan di wilayah perairan sekitarnya, tidak mendapatkan seekor ikan pun, karena semua sudah "dibersihkan" oleh kapal-kapal pengguna pukat harimau tersebut.

"Sekali mereka melingkar (mengepung kawanan ikan, khususnya tuna dan cakalang) bisa mencapai ratusan ton dalam sehari. Tindakan ini kan sudah merampas hak kami sebagai nelayan yang beroperasi di wilayah ini," ujarnya.

Wahab yang juga Ketua Bimbingan Masyarakat Nelayan pada Himpunan Nelayan Indonesia (HNSI) Kota Kupang itu mengatakan "Kami tidak melarang nelayan dari luar NTT datang mencari ikan di wilayah perairan Laut Timor, karena kita adalah satu bangsa".

"Namun, yang kami tidak inginkan, kenapa mereka masih menggunakan pukat harimau? Penggunaan pukat harimau kan sudah dilarang, kok masih ada yang beroperasi juga," katanya.

Menurut dia, masih beroperasinya "trawler" di wilayah perairan Indonesia saat ini, seperti yang dilakukan oleh para nelayan dari Benoa, Bali itu mengindikasikan bahwa masih ada "kongkalingkong" antara petugas keamanan dengan para pemilik kapal.

Ia mengatakan aparat berwenang seperti Polisi Perairan (Pol Air) perlu bertindak tegas terhadap penggunaan pukat harimau oleh kapal-kapal dari luar yang beroperasi di wilayah perairan NTT.

Menurut Mohamad Amin, nahkoda KM "Mutiara", jika tidak beroperasinya kapal-kapal pengguna pukat harimau, mereka bisa mendapatkan 5-10 ton ikan dalam semalam dari Laut Timor.

Wilayah perairan selatan dan barat Laut Timor merupakan basisnya ikan cakalang dan tuna. Hasil tangkapan nelayan tersebut, umumnya diekspor ke Jepang dan Amerika Serikat serta sebagiannya diantarpulau ke Jawa untuk memenuhi kebutuhan ikan bagi para konsumen di Pulau Jawa.

"Saat ini musim ikan, namun untuk mendapatkan ikan cakalang dan tuna dari Laut Timor masih butuh beberapa hari lagi, karena sebagian besarnya sudah dihabisi oleh kapal-kapal raksasa pengguna pukat harimau," ujarnya.Budi Suyanto
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar