Komunitas Akar Rumput Yogyakarta Pendorong Literasi

id komunitas akar rumput, gerakan membaca, yogyakarta

Komunitas Akar Rumput Yogyakarta Pendorong Literasi

Pengurus Komunitas Akar Rumput Yogyakarta, Robby Aditya melakukan aktivitas membaca di ruang publik di Tugu Jogja, Kota Yogyakarta, Minggu (14/5). (ANTARA FOTO/Darwin Fatir)

Yogyakarta (Antara Sulsel) - Komunitas akar rumput yang didominasi mahasiswa pascasarjana di Daerah Istimewa Yogyakarta terus mendorong peningkatan literasi bagi masyarakat dengan menyajikan gerakan membaca melalui perpustakaan jalanan.

"Cita-sita kami membudayakan gerakan membaca di ruang-ruang publik, salah satunya dilakukan di tugu Jojga ini," kata pengurus Komunitas Akar Rumput Jogja, Robby Aditya di Yogyakarta, Minggu.

Menurutnya, gerakan literasi melalui budaya baca di ruang publik adalah salah satu langkah efektif untuk meningkatkan minat baca masyarakat maupun pengunjung yang beraktivitas di wilayah setempat.

"Secara langsung dampak dari adanya perpustakaan jalanan ini mendapat apresiasi dari masyarakat serta pemerintah, antusias pengunjung pun cukup baik, bahkan kami juga mendapat dukungan dari media untuk membagikan informasi perpustakaan jalanan," papar Wakil Ketua Umum Himpunan Pascasarjana Akuntansi Universitas Gajah Mada ini.

Saat ditanya bagaimana terbentuknya perpustakaan jalanan tersebut, kata dia, berawal dari gagasan sejumlah mahasiswa pascasarjana UGM untuk membuat perpustakaan di ruang publik pada Oktober 2015, meski dengan keterbatasan buku kala itu berjumlah 35 eksemplar.

"Sejauh ini, dari 35 buku kini terus bertambah menjadi tiga ratusan lebih buku-buku yang terkumpul atas dasar sumbangan, belum lagi sumbangan dari penerbit dan bantuan Badan Pusat Arsip Daerah setempat. Tapi tidak semua buku dibawa, tetapi hanya buku bersifat umum saja di sajikan," tutur alumnus Fakultas Akutansi Universitas Negeri Makassar (UNM) itu.      

Mantan Dewan Mahasiswa Akuntansi UNM ini mengemukakan, hingga kini tekah banyak komunitas yang ikut bergabung bahkan menyumbangkan buku-bukunya karena terdorong gerakan literasi, seperti komunitas literasi Jogja, Rakyat Sastra, mahasiswa Universitas Negeri Yogjakarta dan beberapa lainnya. Tidak hanya membuka perpustakaan jalanan, pihaknya juga rutin menggelar diskusi publik.

"Setiap Sabtu malam kami membuka perpustakaan ini, dan dibarengi dengan diskusi publik mengangkat tema berbeda-beda setiap minggunya menyikapi persoalan-persoalan yang hangat dibicarakan. Kami juga diberikan izin oleh pemerintah setempat membuka perpustakaan jalan disini," ujar mantan Ketua Komisi III Maperwa UNM tersebut.

Selain itu, lokasi perpustakaan jalanan itu sangat tepat karena merupakan daerah strategis tempat berkumpulnya anak-anak muda Jogja hingga pengunjung dari luar kota maupun provinsi berkumpul dan dimanfaatkan dengan tujuan baik.

"Harapan kami kedepan akan banyak komunitas ikut bergabung, dan masyarakat maupun pengunjung bisa menambah pengetahuannya dengan membaca buku sambil nongkrong disini menikmati kota jogja. Kami terus mendorong peningkatan literasi dari berbagai arah untuk mencerdaskan anak bangsa," tambah pria kelahiran Pinrang, Sulsel 22 Juni 1990 itu.

Salah satu pengunjung, Muhaimin Ashar yang diminta tanggapanya mengatakan, dirinya sangat terbantu dengan hadirnya perpustakaan jalanan, dimana lokasi sangat stategis di tengah kota Jogja dan tempat bersejarah berdirinya Pal Tugu Jogja.

"Saya sangat terbantu dengan adanya perpustakaan jalanan disini, apalagi sambil membaca bisa pesan kopi di angkringan. Bahkan saya senang ikut dalam diskusi publik membahas masalah kekinian sampai bisa tahu persoalan setelah dibedah dalam diskusi," katanya.

Diketahui, terbentuknya Komunitas Akar Rumput berasaskan kekeluargaan ini memiliki kegiatan utama yakni mengadirkan Perpustakaan Jalanan, Diskusi Publik, hingga pembuatan buku. Setiap malam minggu di pelataran Tugu Jogja, komunitas tersebut membuka perpustakan jalanan dengan tujuan guna membudayakan minat baca masyarakat.

Diskusi Publik dalam bentuk forum juga bedah buku di ruang publik dengan tema yang aktual. Tujuannya, menumbuhkan sifat dan sikap kritis masyarakat dari berbagai sudut pandang, serta mengajarkan rasa saling menghormati dan menghargai dalam kehidupan bermasyarakat.
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar