DLH sasar limbah B3 puskesmas

id dlh,limbah,puskesmas,makassar

Foto dokumentasi. Seorang polisi memeriksa barang bukti berupa puluhan kilogram sampah medis diantaranya botol infus dan alat suntik yang seharusnya dimusnahkan berhasil disita di Mapolwil, Malang, Jawa Timur, ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Makassar (Antaranews Sulsel) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar akan menyasar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di lingkungan rumah sakit dan Puskesmas yang ada di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan ini.

"Kita tahu pengelolaan limbah medis di kota ini belum bagus, baru beberapa rumah sakit yang punya izin operasi insinerator, padahal banyak rumah sakit dan puskesmas di Makassar," ujar Kepala DLH Makassar, Azis Hasan di Makassar, Kamis.

Ia mengatakan beberapa rumah sakit dan puskesmas yang belum memiliki insinerator akan didorong agar segera menyiapkan peralatan serta diberikan pelatihan cara penggunaannya.

Azis mengatakan rumah sakit dan puskesmas akan menjadi salah satu target utama selain dari industri-industri baik yang skalanya besar maupun skala rumah tangga.

"Kami menyasar rumah sakit dan puskesmas ini sebab dari tempat inilah salah satu penghasil limbah B3. Kami ingin memberi pemahaman agar pengelolaan peralatannya bisa ditangani secara baik," katanya.

Dia juga meminta pihak penghasil limbah B3 itu agar tidak memusnahkan sendiri limbahnya termasuk penggunaan insinerator, tetapi diharapkan agar berkoordinasi dengan pihak DLH Makassar.

Ia berharap pihak rumah sakit dan puskemas yang mengelola limbah B3 mampu memahami dan berkoordinasi yang baik agar penanganannya tidak merusak lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia.

"Limbah B3 itu sifatnya cair dan padat, sehingga perlakuan dan penanganannya juga beda. Saking pentingnya perhatian masalah ini sehingga DLH Makassar ditangani masing-masing bidang," ungkapnya.

Menurut Azis, beberapa limbah B3 memiliki sejumlah sifat seperti mudah meledak, mudah terbakar, beracun dan apabila tidak ditangani secara tepat maka dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan pada tingkatan tertentu dan merusak ekosistem.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar