Konversi elpiji dan asa nelayan negeri

id Konversi Elpiji, Pertamina MOR VII, Kabupaten Takalar

Abdul Rahman Dg. Taba berfoto bersama perahu dan mesin yang dilengkapi dengan konverter kit Elpiji. Konverter kit Elpiji tersebut merupakan bantuan dari PT Pertamina MOR VII yang diserahkan pada Jumat (21/9/2018). (ANTARA FOTO/Nurhaya J Panga)

Makassar  (Antaranews Sulsel ) - Jabat erat dan senyum hangat Abdul Rahman Dg. Taba menyambut kami siang itu, Minggu (28/10), di Pelabuhan Bodia, Kabupaten Takalar, sekitar dua puluh kilometer dari pusat Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
     
Pria berusia 45 tahun yang akrab disapa Dg. Taba ini adalah salah satu dari 953 nelayan penerima paket konverter kit Elpiji yang diserahkan PT Pertamina Marketing Operasional Regional (MOR) VII pada Sepetember lalu.
     
Ditemani secangkir kopi, pria yang telah melaut hampir selama 40 tahun tersebut menuturkan asanya yang sempat padam, namun kini kembali menyala setelah menerima bantuan konverter kit Elpiji.
     
Ia bercerita, seperti kebanyakan nelayan lain di Bodia, ia adalah nelayan turun-temurun. Ayahnya adalah seorang nelayan, kakeknya seorang nelayan, bahkan ayah dari kakeknya juga nelayan.
     
Berbeda dengan anak-anak kebanyakan yang setelah berusia enam atau tujuh tahun dimasukkan ke sekolah, ia dan ketujuh saudaranya ketika memasuki usia tersebut justru mulai membantu orang tua mereka melaut.
   
 "Kita sekolah cuma sampai kelas satu, setelah itu diberhentikan untuk bantu bapak melaut," kata Dg. Taba mengenang masa kecilnya.
     
Kehidupan ekonomi yang sulit memaksanya mengembangkan banyak keahlian, memancing, menjaring, menyelam bahkan membius telah dilakoninya.
     
"Dulu saya raja bius, tapi saya lihat sendiri karena bius karang mati, jadi saya berhenti," ujarnya.
     
Ia pun pernah melaut hingga ke perbatasan Australia pada musim-musim tertentu ketika ikan sulit diperoleh. Baginya kehidupan adalah di laut.
     
"Laut yang jadi tanah, kalau tidak melaut, mau makan apa kami ini," lirihnya.
     
Kerasnya hidup sebagai nelayan membuatnya bermimpi, kelak, anak-anaknya tidak lagi mengikuti jejaknya. Ia berharap, setidaknya dua dari tiga anaknya dapat mengecap pendidikan yang layak hingga ke perguruan tinggi.
     
Mimpi itu terbukti sulit ia raih. Menurut Dg. Taba pendapatan dari melaut sangat tidak menentu. Jika beruntung mendapat banyak ikan, Dg. Taba dapat mengantongi pendapatan bersih antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu perhari. Namun, ketika tangkapannya minim, kadang kala hasil jualan ikan hanya dapat menutupi biaya bahan bakar.
   
 Ia menjelaskan, selama ini bahan bakar (bensin) menjadi komponen biaya terbesar saat mencari ikan. Untuk sekali perjalanan melaut, ia biasanya menempuh jarak 40 mil, dengan biaya bahan bakar minimal Rp200 ribu. Ditambah biaya rokok dan kopi, total, kata dia, ia menghabiskan minimal Rp250 ribu. 
     
Ketika hasil tangkapan sedang bagus, Dg. Taba bisa bernafas lega, ia bisa mendapat ikan hingga 50 kg dengan nilai penjualan sekitar Rp800 ribu. Setelah dikurangi gaji untuk orang yang turut membantu, serta bagian biaya yang disimpan untuk pemeliharaan kapal, ia dapat membawa pulang sekitar Rp350 ribu per hari.
       
Namun, ketika hasil tangkapan minim, ia biasanya hanya memperoleh hasil penjualan ikan hingga Rp500 ribu. Hasil penjualan tersebut hanya impas dengan biaya bahan bakar dan gaji orang yang membantu.
       
"Kalau seperti itu, rasanya tidak usahlah melaut dulu, karena hanya lelah yang diperoleh," ujarnya.
     
Rata-rata pendapatannya, kata Dg. Taba, hanya cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan membayar cicilan utang di bank yang ia gunakan untuk membeli perahu. Nyaris tak ada yang bisa ia tabung. Mimpi untuk bisa menyekolahkan anaknya hingga ke bangku kuliah nyaris terkubur.
     
Namun sejak September lalu, gairah baru kembali menyalakan semangat Dg Taba. Bermula dari bantuan paket konverter kit Elpiji yang diberikan PT Pertamina MOR VII.
     
Paket konverter kit ini terdiri atas mesin penggerak, konverter kit, as panjang, baling-baling, 2 buah tabung elpiji 3 kg, dan aksesoris pendukung lainnya.
       
Paket konverter kit ini memungkinkan nelayan mengoperasikan mesin penggerak perahu menggunakan bahan bakar Elpiji yang harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan menggunakan bahan bakar bensin. Harapannya, bantuan ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan Indonesia.
     
Jika menurut Menteri ESDM Ignasius Jonan, dengan konverter kit berbahan bakar Elpiji, nelayan bisa menghemat biaya operasional melaut Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari, di tangan Dg Taba, penghematan yang dilakukan jauh lebih besar.
     
Menurut Dg Taba, berdasarkan pengalamannya, untuk jarak 40 mil, ia hanya menghabiskan satu tabung gas Elpiji, seharga Rp18 ribu per tabung. Ini berarti terdapat selisih Rp182 ribu antara konsumsi bensin dan konsumsi gas Elpiji untuk jarak yang sama.
   
"Kuncinya ada pada teknik menarik gas, tarikan gas usahakan selalu stabil sehingga tidak mengkonsumsi banyak bahan bakar," ungkapnya berbagi strategi.
     
Sejak pembagian konverter kit Elpiji tersebut, bagi Dg. Taba kini tidak ada lagi hari yang tidak menguntungkan. Dengan hasil tangkapan yang minim pun, ia masih bisa menikmati keuntungan minimal Rp182 ribu yang dulunya hangus terbakar bersama deru mesin perahunya.
     
Tingginya keuntungan yang bisa diperoleh karena konversi bahan bakar dari bensin/premium ke gas ini mendorong ia dan nelayan lainnya secara mandiri berupaya mencari konverter kit ini. Sayangnya, menurut Dg. Taba konverter kit serupa yang dibagikan oleh Pertamina tidak dapat ia peroleh dijual bebas di toko-toko peralatan mesin.
     
"Sudah di banyak toko kami datang mencari, tapi belum ada yang seperti konverter yang dibagikan Pertamina," ujarnya.
       
Pihaknya bersama nelayan-nelayan lain bahkan berinisiatif memodifikasi mesin yang mereka miliki agar dapat dioperasikan menggunakan Elpiji, sayangnya hasilnya masih mengecewakan.
       
Asa Dg Taba untuk menyekolahkan anaknya yang saat ini masih duduk di bangku SMP dan SD ini kembali bersemi. Keuntungan lebih besar yang ia peroleh saat melaut dengan menggunakan konverter kit Elpiji, ia tabung untuk bekal kuliah anaknya nanti.
     
Impiannya adalah melihat anak-anaknya menjadi guru, menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Memiliki kehidupan yang lebih sejahtera, tidak semata bergantung pada kekuatan fisik dan alam semata.
     
"Saya bersyukur, pemerintah sudah memikirkan kami, karena sekarang dengan bantuan ini, kami sudah bisa menyekolahkan anak-anak. Sejak kecil saya jadi nelayan, tapi anak saya akan saya sekolahkan sampai kuliah," tekadnya.
Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar