Perajin sulam pita gunakan daring kenalkan produk

id Perajin sulam pita kediri ,kerajinan sulam pita,kabupaten kediri ,lukis sulam pita kediri

Khoirul Badiyah, perajin tas dan sulam pita saat menghias kerajinannya di rumahnya, Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jumat (9/8/2019). Foto Antara Jatim/ Asmaul Chusna

Kediri (ANTARA) - Perajin sulam pita asal Desa Sukorejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, memanfaatkan dalam jaringan untuk menjual sekaligus mengenalkan berbagai macam produk kerajinan miliknya, sehingga pasar lebih terbuka.

"Awalnya saya membuat untuk dekorasi rumah misalnya taplak, bantal kursi, tudung saji, tapi saya kemudian beralih ke hiasan dinding," kata Khoirul Badiyah, perajin tas dan sulam pita asal Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jumat.

Ia mengaku, menekuni usaha ini dan mulai menjual produknya sejak 2015. Berawal dari dirinya yang memang menyukai baju dengan hiasan sulam, akhirnya berinisiatif membuat kerajinan sendiri.

Selama ini, dirinya juga belajar secara otodidak dari daring, hingga menemukan ide membuat kerajinan tangan untuk dekorasi rumah. Namun saat ini dirinya lebih konsentrasi ke hiasan dinding dengan sulam pita, karena peminatnya yang lebih banyak.

"Awal saya aksesori, belajar otodidak dan praktikkan. Belajarnya lewat daring, jadi belun pernah belajar resmi, dan kembangkan sendiri," kata dia.

Menurut dia, membuat kerajinan ini membutuhkan ketelitian dan kreativitas. Awalnya dipilih pita yang bagus termasuk kainnya. Jika kain tidak sesuai, saat disulam akan kaku, sehingga menyulitkan proses penyulaman.

Sebelum disulam, kain kemudian diberi motif. Dari situ, lalu dikembangkan menjadi hiasan sesuka hati. Mayoritas hiasan yang dibuat berbentuk bunga dengan warna yang cerah.

Ia juga mengatakan, selain membuat dari bahan baku pita, juga dari benang. Dirinya juga membuat hiasan dengan bahan baku sesuai dengan keinginan termasuk permintaan pelanggan. Saat ini, yang paling diminati adalah hoop art.

Untuk membuat hiasan berupa hoop art, yakni berupa hiasan dinding dengan pemidang dibutuhkan waktu sekitar dua hari, yakni sehari untuk menyulam dan sehari memberi cat. Untuk kain yang dasarnya putih, diberi cat jika sudah selesai semua dalam proses menyulam, sehingga kain tidak kaku. Warna yang diberikan juga lebih mengacu pada warna lembut dan tidak bertabrakan dengan warna bunga.

"Untuk hiasan dinding saya baru sekat lalu sulam dan melukis. Kalua melukis dulu sulit, karena kain keras. Jadi, sekarang yang trend itu hoop art dan pembeli saya banyak tertarik. Beberapa waktu lalu saya unggah empat foto poop art dan langsung terjual," kata dia.

Ia mengatakan, untuk saat ini lebih konsentrasi guna stok barang, mengingat biasanya hiasan yang sudah jadi dan langsung diunggah di jejaring sosial miliknya langsung laku. Namun, ada juga beberapa calon pembeli yang memesan, sehingga dirinya juga harus menyelesaikannya.

Dirinya juga sering ikut pameran selain diunggah di jejaring sosial seperti facebook, instagram miliknya. Dengan itu, kerajinan tangan yang dibuatnya juga lebih dikenal masyarakat luas. Namun, untuk pengiriman barang ke luar kota, biasanya ditaruh di paralon besar, sehinggga desain gambar tetap bagus.

Selain itu, ia juga sering mengajak para ibu rumah tangga atau teman-temannya untuk belajar sulam. Bahkan, dirinya beberapa kali mengadakan pelatihan sulam dan ada beberapa di antaranya juga membuat. Namun, karena masih sibuk dengan kegiatan pribadi, kegiatan menyulam mereka juga terganggu, sehingga tidak segera selesai.

Ia berharap, banyak yang belajar membuat kerajinan ini, mengingat membuatnya juga mudah dan tidak harus terus keluar rumah. Bahkan, harga jual produk juga relatif bagus. Untuk kerajinan yang dibuatnya, dihargai mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

"Sebenarnya banyak yang tertarik, karena keterbatasan SDM (sumber daya manusia). Dulu memberi pelatihan, sempat produksi ramai juga, tapi lama-lama yang kerja terkendala, karena mengantar anak maupun kerja di tempat lain. Kan, ini kerja sampingan, akhirnya mereka berhenti," kata dia. 
Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar