Makassar (ANTARA) - Wali Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Munafri Arifuddin berkomitmen dalam memberikan perlindungan kepada anak-anak serta pentingnya keterlibatan dan kontrol orang tua terhadap teknologi demi masa depan anak-anak Indonesia.
"Anak-anak adalah masa depan Indonesia dan tugas kita bukan hanya mendidik mereka, tetapi juga mengantarkan mereka menjadi generasi emas yang hebat pada tahun 2045," ujarnya di Makassar, Rabu.
Dalam momentum peringatan Hari Anak Nasional ke-41 tahun 2025 Munafri menyuarakan keprihatinannya terhadap peningkatan kasus-kasus yang melibatkan anak-anak di Makassar, sekaligus menyerukan aksi nyata untuk mencetak generasi emas 2045.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah pengaruh negatif teknologi dan gadget yang tak terkendali di kalangan anak-anak, khususnya pada usia pendidikan dasar.
Ia mengingatkan meskipun teknologi membawa manfaat, penggunaan tanpa pendampingan bisa merusak perkembangan mental, moral, dan sosial, anak-anak.
"Kita harus mulai berani membatasi penggunaan gadget di jenjang pendidikan dasar. Tidak semua informasi baik untuk mereka. Peran orang tua dan guru sangat penting dalam mengarahkan dan memfilter konten yang dikonsumsi anak-anak," katanya.
Munafri juga menekankan pentingnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Di tengah kesibukan modern, kata dia, perhatian orang tua sering kali teralihkan dari kebutuhan psikologis anak-anak, padahal kedekatan itulah yang menjadi fondasi kuat bagi pembentukan karakter anak.
"Anak-anak membutuhkan perhatian dan sentuhan kasih dari orang tuanya. Kedekatan emosional dengan orang tua akan berdampak besar terhadap kejiwaan dan ketangguhan mental anak," ucapnya.
Selain itu Munafri mengajak para pendidik dan orang tua untuk membangun kesadaran pentingnya pendidikan berbasis nilai dan etika, termasuk dalam membedakan kegiatan anak laki-laki dan perempuan agar tetap sesuai dengan norma dan budaya lokal.
"Kita tidak hanya bicara pendidikan formal, tapi juga pendidikan karakter, adab, dan nilai-nilai budaya kita. Local wisdom seperti siri na pacce harus kembali diajarkan sebagai bekal hidup mereka di masa depan," ucap dia.
Pemerintah Kota Makassar, lanjutnya, berkomitmen penuh dalam mendukung program-program pembangunan anak, baik dari sisi kesehatan, pendidikan, maupun perlindungan hukum dan sosial.
Sebelumnya data Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (DPPA) Makassar mencatat hingga Mei 2025 ada 265 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Ketua Tim Reaksi Cepat (TRC) UPTD PPA Makassar Makmur mengatakan dari ratusan kasus itu anak menjadi korban terbanyak dan tidak sedikit anak juga berhadapan hukum yakni sebanyak 28 orang, 23 orang diantaranya anak laki-laki dan sisanya lima anak perempuan.

