Masyarakat Indonesia cenderung malas ganti sikat gigi

id malas ganti sikat gigi

"Harapannya, edukasi ini dapat berkontribusi dalam menurunkan persentase masalah gigi masyarakat Indonesia, khususnya di Kota Makassar," tutupnya.
Makassar, (Antara Sulsel) - Masyarakat Indonesia cenderung suka lupa atau malas mengganti sikat gigi sehingga rata-rata masyarakat Indonesia mengganti sikat gigi setiap sepuluh bulan sekali atau berarti setahun sekali.

Kepala Komunikasi Pemasaran dan Perusahaan Group Orang Tua Yuna Eka Kristina mengemukakan hal itu di sela-sela kampanye edukasi kesehatan gigi dan mulut yang diselenggarakan Formula di Makassar, Rabu.

Formula menyelenggarakan kampanye edukasi kesehatan gigi dan mulut untuk mengubah kebiasaan masyarakat dalam merawat kesehatan gigi dan mulut.

"Hari ini kami menyelenggarakan kampanye edukasi untuk mengajak masyarakat mengubah kebiasaannya dalam merawat gigi dan mulut, sehingga dapat memperoleh gigi dan mulut yang sehat," kata Yuna Eka Kristina.

Yuna mengatakan bahwa sebagai salah satu merek asli Indonesia yang bergerak di bidang perawatan gigi dan mulut, pihaknya melihat kebiasaan masyarakat dalam merawat gigi dan mulut, dan dari pengamatan ini terungkap beberapa fakta terkait kebiasaan buruk masyarakat dalam merawat kesehatan gigi dan mulutnya.

Padahal, lanjutnya, peneliti dari Universitas Manchester menemukan lebih dari 200 juta bakteri pada bulu sikat gigi, termasuk e. coli dan staphylococci. Bakteri ini mudah berpindah dari sikat gigi ke tubuh manusia melalui rongga mulut dan menyebabkan timbulnya penyakit lain.

Kebiasaan lain, kata dia, adalah masyarakat cenderung menggunakan produk pasta gigi, hanya karena sudah sering menggunakan produk tersebut.

"Tapi kalau ditanya kenapa milih itu, mereka ngak tahu. Jadi kami ingin mengajak masyarakat untuk mengetahui dulu apa kandungannya," katanya.

Untuk itu, kata dia Formula berupaya mengedukasi masyarakat lewat kampanye bertajuk "Ayo Ganti Pakai Formula."

"Ada dua sub kampanye yaitu ayo ganti sikat gigi secara rutin setiap tiga bulan sekali, dan gunakan pasta gigi yang melindungi gigi dari asam penyebab keropos," jelasnya.

Sasaran kampanye ini, kata dia, pada dasarnya adalah seluruh masyarakat Indonesia, namun pihaknya menjadikan ibu-ibu sebagai target komunikasi.

"Ibu-ibu yang kami sasar adalah ibu rumah tangga, pengajar PAUD, dan penggerak PKK, karena mereka inilah yang bisa mengedukasi selanjutnya, khususnya bagi anak-anak, mengingat kebiasaan adalah sesuatu yang harus dibangun sejak awal," katanya.

Makassar, kata dia, menjadi kota ketiga digelarnya kampanye edukasi ini. Kampanye tersebut akan diselenggarakan di lima kantor kecamatan di Kota Makassar, dengan jumlah peserta lebih dari seratus orang di setiap kecamatan.

"Harapannya, edukasi ini dapat berkontribusi dalam menurunkan persentase masalah gigi masyarakat Indonesia, khususnya di Kota Makassar," tutupnya.
Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar