Indonesia kini sedang menghadapi ancaman perang asimetris yang dilancarkan oleh pihak-pihak asing untuk menghancurkan nasionalisme dan ideologi bangsa. Perang asimetris dengan senjata teknologi informasi dan telekomunikasi berdampak lebih luas dan bisa menyerang masuk dalam relung-relung kehidupan bermasyarakat serta bernegara baik itu bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial maupun budaya serta pertahanan.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudi saat membuka "Cyber Defence Competition" atau Kompetisi Pertahanan Siber (CDC) di Yogyakarta pada 11 Mei 2015 telah mengingatkan bahwa kunci keberhasilan dalam perang asimetris adalah keunggulan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan perangkat yang unggul dan ketersediaan SDM yang andal dan berkualitas, Indonesia diharapkan mampu menangani berbagai ancaman yang berdimensi siber.
Dalam pandangan Menhan, sejak lama negara tidak lagi menjadi aktor peperangan atau pertempuran. Yang kemudian berkembang adalah peperangan (walau tidak dideklarasikan resmi) antara negara melawan aktor nonnegara alias gerakan dan jaringan. Inilah yang lalu melahirkan konsep baru perang, perang asimetris, di mana pihak-pihak yang berhadapan tidak dalam posisi sebanding dalam berbagai aspeknya.
Begitu pula ketika Menhan membuka Pekan Bela Negara Pertahanan Siber Nusantara Tahun 2016 di Pusdatin Kemhan, Jakarta, pada 30 November 2016 bahwa Indonesia harus memiliki kesiapan dalam mengantisipasi dan menghadapi terjadinya perang asimetris. Perang asimetris dapat terjadi setiap saat, baik itu pada masa damai maupun pada masa perang. Terjadi serangannya pun tidak perlu adanya pernyataan perang terlebih dahulu, kata Ryamizard.
Di masa mendatang perang asimetris lebih mungkin berpeluang terjadi dibanding perang konvensional yang mengandalkan kekuatan pasukan dan persenjataan militer. Dampak kehancuran perang asimetris juga tidak kalah dengan kehancuran perang konvensional. Perang asimetris dengan senjata teknologi informasi dan telekomunikasi berdampak lebih luas dan bisa menyerang masuk dalam relung-relung kehidupan bermasyarakat serta bernegara baik itu bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial maupun budaya serta pertahanan.
Konflik energi
Perang di banyak negara Timur Tengah (Arab Spring) bila dicermati lebih banyak dipicu oleh perebutan energi dan minyak dari berbagai negara. Bahkan ketika Panglima TNI masih dijabat oleh Gatot Nurmantyo dalam banyak kesempatan berbicara di berbagai forum, dia memetakan 70 persen konflik di dunia disebabkan perebutan sumber energi dan minyak, bahkan akan terus terjadi hingga hasil minyak dan energi sudah habis.
Perebutan energi dan minyak, tidak harus negara yang berkepentingan terjun langsung ke lapangan. Biasanya negara yang berkepentingan justru memakai warga setempat dengan mengadu-domba dan agitasi. Setelah energi minyak diperkirakan habis pada tahun 2056, maka akan terjadi krisis pangan dan krisis air. Negara-negara lain akan mengincar energi pangan, air yang dimiliki negara yang berada di dalam ekuator. Negara-negara di luar ekuator yang berjumlah sekitar 9,8 miliar orang akan mengincar negara-negara di dalam ekuator, seperti negara ASEAN, Kolombia, Meksiko dan lainnya untuk mengincar energi pangan dan air yang dimilikinya.
Indonesia merupakan negeri yang amat kaya dengan sumber daya alamnya. Bukan mustahil bakal menjadi incaran bagi negara-negara lain. Terbukti Belanda menjajah Indonesia lantaran kekayaan sumber daya alam yang dimiliki negeri ini. Presiden Jokowi saat membuka Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) pada 6 Februari 2018 juga telah menyebutkan sejumlah negara yang alamnya kaya raya, termasuk kaya tambang, minyak dan gas justru didera kemiskinan bahkan konflik dan perang saudara.
Kepala Negara mengingatkan untuk berhati-hati, bahkan sumber daya alam seringkali justru memanjakan dan membuat kita malas, mengalahkan daya juang kita, membuat kita lengah dan tidak mendorong kita semuanya untuk berinovasi dan berkreasi, ini juga hati-hati, karena sekali di negara kita Indonesia dianugerahi oleh sumber daya alam yang melimpah. Oleh karena itu Indonesia juga membutuhkan SDM yang unggul dan kuat.
Waspada terhadap berbagai ancaman terhadap keutuhan NKRI juga merupakan keniscayaan. Mari menjaga NKRI dengan berbagai kegiatan bela negara. Dengan pertahanan rakyat semesta membuat negeri ini berjaya dan disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Jangan sampai ada yang mengganggu kedaulatan NKRI.