Jumat, 20 Oktober 2017

Sineas Makassar Didorong Bersaing Skala Nasional

id film, sineas makassar
Sineas Makassar Didorong Bersaing Skala Nasional
Suasana workshop Kritik Film dan Non Film di Makassar, Selasa (5/9). (ANTARA FOTO/Abd Kadir)
Makassar (Antara Sulsel) - Para sineas atau pelaku film Makassar didorong untuk berani memproduksi karya-karya tidak hanya terbatas bagi masyarakat Sulawesi Selatan tapi juga skala nasional.

Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud Maman Wijaya, di Makassar, Selasa, mengatakan para sinea asal Kota Daeng pada dasarnya punya potensi bersaing dan bisa dilihat dari sukses yang diraih dalam beberapa karya film sebelumnya.

"Film Makassar yang bisa mendatangkan 500 hingga 600 ribu penonton itu merupakan respons yang begitu luar biasa, mengingat film-film nasional saja meski ada yang bisa menembus 1 juta penonton namun tidak sedikit yang sulit menembus angka 500 ribu," katanya lagi.

Jadi, kami mendorong film-film karya anak Sulsel (Makassar) tidak hanya berjaya di kandang sendiri namun bisa menembus level nasional," katanya pada acara Workshop Kritik Film dan Non Film di Makassar.

Melihat respons begitu besar dari masyarakat, dirinya juga berharap film-film dari Makassar, Sulsel bisa terus maju dan menembus 1 juta penonton.

Berbagai kebudayaan dan kearifan lokal di Sulsel juga dinilai punya potensi tersendiri untuk bisa diekspose dalam sebuah karya. Jika bisa dikemas dengan baik, maka tidak mungkin bisa menjadi daya tarik bukan hanya di Makassar namun juga penonton dari berbagai daerah di Indonesia.

Terkait pelaksanaan Workshop Kritik Film dan Non Film yang dilaksanakan di Makassar, 4-6 September 2017, dirinya juga mengakui salah satu alasan memilih Kota Daeng sebagai lokasi pelaksanaan karena geliat perfilman di daerah ini.

"Kenapa Makassar, karena perfilman Makassar pada saat ini tumbuh dengan luar biasa. Jadi pantas jika dilaksanakan di sini pantas pula jika masyarakat bisa mendapatkan pengetahuan dan informasi lebih tentang film," ujarnya pula.

Kegiatan itu diikuti sebanyak 61 peserta yang terdiri dari wartawan, komunitas film dan pembuat film.

Dalam kegiatan itu, peserta juga melakukan pelatihan langsung praktik agar bisa membuat film dan menjadi kritikus film yang belakangan memang mengalami krisis.

"Kita saat ini tidak hanya perang dalam ekonomi namun juga perang kebudayaan. Jika ingin menganghancurkan sebuah negara, maka hancurkan kebudayaannya. Ini yang biasa dinamakan proxy war," ujar dia lagi.

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga