Pendaki Difabel Mencapai Puncak Gunung Sesean

id Pendaki difabel, menembus batas bagian ii, gunung sesean, toraja utara

Salah seorang pendaki difabel saat mendaki Gunung Sesean di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan (FOTO/Dokumentasi)

Makassar (Antara Sulsel) - Tim Pendakian Bersama Difabel Menembus Batas Bagian II menggapai puncak Gunung Sesean, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Sabtu, sekitar pukul 16.30 Wita.

Pendakian bersama difabel dalam rangka memperingati Hari Penyandang Disabilitas Internasional 2017 yang diikuti 70 orang penggiat alam bebas bersama 9 orang penyandang disabilitas ini start dari kaki gunung sekitar pukul 15.00 Wita.

"Jika dibandingkan dengan tidur di hotel selama dua malam, di sini lebih sensasional. Dengan pendakian ini kita ingin perlihatkan bahwa difabel juga bisa mendaki gunung. Karena kami selalu dipandang sebelah mata,
" ujar salah satu pendaki difabel, Agussalim melalui rilisnya di Makassar, Minggu.

Gabungan penggiat outdoor dan difabel ini dibagi ke dalam tim kecil yang terdiri atas lima dan enam orang dan satu orang penyandang disabilitas.

Tim tiba pertama di puncak gunung yang memiliki ketinggian 2100 mdpl ini adalah tim yang beranggotakan difabel buta dan daksa kinetik.

"Cuaca selama pendakian relatif cerah hingga tim rata-rata tiba saat petang. Saya merasakan sensasi yang begitu tinggi dalam pendakian ini," ujarnya.

Dia berharap dengan kegiatan ini bisa mendapat perhatian publik lebih luas. "Kita juga butuh dukungan pemerintah bukan hanya materi tapi juga dorongan moril, " pintanya.

Sementara difabel buta Abdul Rahman sangat bersyukur bisa muncak. Apalagi sebelum malam tiba.
Selama perjalanan, dia mengatakan bergerak atas instruksi dari pendampingnya yang berada di belakang, depan dan sampingnya. Jika pendamping mengatakan kanan maka dia akan berjalan arah kanannya. "Sempat tergelincir karena lambat terima instruksi,"jelas dia.

Rahman memiliki sekitar 30 persen penglihatan dan pada peringatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional 2016 lalu sukses mencapai puncak Latimojong, Enrekang.

"Saya sudah tidak mengalami kesulitan dalam orientasi mobilitas karena intruksinya tepat. Berbeda dengan pendakian Latimojong yang kadang tidak tepat instruksinya dan masih ditarik pakai tali webing yang dililit di pinggang. Di sini (Sesean) saya hanya dipakaikan harness (pengaman panjat tebing) tapi sudah tidak ditarik," kata dia.

Menurutnya, pendakian di Latimojong menjadi pembelajaran berharga untuk orientasi mobilitas dan komunikasi instruksi.
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar