Implementasi bakti riset LPM UNM berikan pelatihan guru desa kreatif

id LPM Penalaran UNM, Bakti Riset 2019,pelatihan guru desa kreatif,Desa Bacu-bacu, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru

Implementasi bakti riset LPM UNM berikan pelatihan guru desa kreatif

Pelatihan guru kreatif yang dilaksanakan LPM Penalaran UNM pada Bakti Riset 2019 di Desa Bacu-bacu, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Kamis (29/08/2019). ANTARA Foto/HO-Humas LPM Prnalaran UNM

Makassar (ANTARA) - Bakti Riset Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran Universitas Negeri Makassar (UNM) tahun 2019 menggelar berbagai pelatihan di Desa Bacu-bacu, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru sebagai implementasi penelitian yang telah dilakukan di tempat itu.



Pelatihan yang digelar di antaranya pelatihan guru desa kreatif yang berlangsung di SD Negeri Ammerung, Desa Bacu-bacu, Barru, Kamis. Peserta yang hadir terdiri dari guru-guru SDI Ampiri, SMPN 5 Pujananting, dan SDN Ammerung.



Program pendidikan tersebut bertujuan agar guru mampu menumbuhkan kembali motivasi mengajar dan menerapkan metode mengajar kreatif di kelas, khususnya dalam pembelajaran literasi.



"Materi yang diberikan meliputi motivasi Mengajar, Menulis Jurnal Harian, Dasar-dasar Mendongeng, dan Read Aloud," jelas Ketua Umum LPM Penalaran UNM Periode 2018/2019, Wahyudin.



Kata Wahyudin, pelatihan berjalan interaktif dengan menggunakan metode brainstorming, simulasi, dan tanya-jawab terbuka, yang dipandu oleh pemateri dengan latar belakang beragam.



Seperti Mabrur, S.Si dari Alumni Pengajar Cerdas Desa Tubaba, Astrini Syamsuddin dari Dongeng Keliling, dan Manggazali dari Rumah Dongeng.



Selain itu, Bakti Riset 2019 ini juga merealisasikan program kesehatan bekerjasama pihak Puskesmas Kecamatan Doi-doi dan tim medis dari Makassar.



Bentuk kegiatan berupa pelayanan medis dan penyuluhan kesehatan, sementara pemeriksaan yang dilakukan mencakup hipertensi, diabetes, kolesterol, asam urat, berat badan ideal dan lingkar badan.



"Kegiatan dan penyuluhan kesehatan ini sangat membantu pihak puskesmas dalam rangka memudahkan warga mengakses kesehatan gratis," ungkap Kepala Puskesmas Doi-doi, Andi Syarifuddin.



Sebab, perjalanan dari desa ke Puskesmas yang membutuhkan waktu satu jam menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan layanan kesehatan yang memadai.



"Walaupun jarak puskesmas dari desa Bacu-bacu jauh, tapi mereka tetap pergi ke Puskesmas ketika melahirkan maupun periksa kesehatan," terangnya.



Sosialisasi kesehatan berisi materi tentang Penyakit Tidak Menular yang jamak terjadi di desa, Perilaku Tidak Sehat yang dapat menimbulkan penyakit, serta Perilaku Hidup Sehat agar dapat diterapkan.

Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar