Makassar (ANTARA News) - Angka kematian bayi di Provinsi Sulawesi Selatan masih tergolong cukup tinggi dan belum memenuhi target Meillenium Development Goals.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Andi Mappa Toba, di Makassar, Senin, mengatakan, saat ini angka kematian bayi mencapai 41 per 1.000 kelahiran hidup.
Dalam MDGs, target angka kematian bayi adalah sebanyak 34 per 1.000 kelahiran hidup.
"Jumlah kasus kematian bayi inipun masih jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) hingga tahun 2014, yakni sebanyak 24 per 1.000 kelahiran hidup," imbuhnya.
Ia menambahkan, jika dilihat dari sejumlah kasus kematian bayi, pada dasarnya tidak banyak disebabkan oleh gizi buruk, meskipun gizi buruk memang memiliki andil besar dalam kematian bayi.
Gizi buruk yang menyerang bayi, jelasnya, dapat mengakibatkan bayi tersebut mudah terserang infeksi atau disebut penyakit penyerta yang bisa menimbulkan kematian.
Menurut dia, terdapat banyak faktor yang bisa mengakibatkan tingginya angka kematian bayi di Sulsel.
"Faktor-faktor tersebut, diantaranya adalah sarana dan prasarana kesehatan yang belum memadai, khususnya di daerah terpencil dan pegunungan," terangnya.
Selain itu, ada pula faktor keterampilan dari petugas kesehatan yang belum cukup mumpuni yang mengakibatkan tingginya angka kematian bayi.
Meskipun masih cukup tinggi, Pemerintah Provinsi Sulsel terus mencanangkan berbagai program untuk dapat menekan angka kematian bayi, sehingga target dalam RPJMN dan MDGs bisa tercapai.
"Untuk itu, kami juga mengimbau pemerintah Kabupaten dan Kota, khususnya di daerah terpencil untuk menciptakan program yang dapat mendukung pencapaian target ini," pungkasnya.
(T.KR-HK/S016)

