Makassar (ANTARA) - Empat komoditas unggulan Sulawesi Selatan yakni Mate nikel, fero nikel, rumput laut, semen dan karaginan terkoreksi tajam di pasar mancanegara.
"Devisa lima komoditas unggulan ekspor Sulsel hingga akhir 2024 terkoreksi cukup tajam antara 22,7 persen hingga 45,2 persen," kata Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Selatan (Kanwil DJBC Sulbagsel), Alimuddin Lisaw di Makassar, Senin.
Dia menjelaskan, mate nikel misalnya berkontribusi 55,64 persen dari total devisa ekspor atau setara 950,39 juta USD mengalami kontraksi atau penurunan sebesar 22,9 persen.
Sementara rumput laut yang berkontribusi 7,19 persen atau setara 122,89 juta USD, terkontraksi 37,5 persen, komoditas semen yang berkontribusi 2,87 persen atau setara 49,02 juta USD terkontraksi 22,7 persen dan karaginan yang berkontribusi 2,67 persen atau setara 45,67 juta USD, terkontraksi 45,2 persen.
Dari lima komoditas itu, komoditas lainnya yakni fero nikel masih memberikan kontribusi 23,38 persen atau setara 399,28 juta USD atau tumbuh sekitar 29,6 persen.
Sementara destinasi ekspor, diakui, Jepang dan China masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar dari Sulsel.
Kemudian dari sisi impor, lanjut Alimuddin, China dan Brazil menjadi negara pengimpor terbesar, dengan komoditas impor terbesar, Gandum dan Gula.
Kinerja ekspor pengguna fasilitas Kawasan Berikat sebesar 546,23 juta USD, sementara kinerja impor berada pada angka 88,71 Juta USD.
Neraca Perdagangan Desember 2024 surplus 32,95 juta USD. Nilai ekspor tercatat 133,94 juta USD, sementara nilai impor tercatat 100,99 juta USD. Secara umum neraca perdagangan kumulatif Januari – Desember 2024 mengalami penurunan sebesar 0,59 (yoy).
Penyebab defisit neraca perdagangan Februari 2024 adalah peningkatan impor beras, dilakukan dalam rangka menstabilkan harga beras untuk pengendalian inflasi regional. Inflasi Sulsel Februari 2024, turun menjadi 0,30 persen dari bulan sebelumnya 0,36 persen.