Doktor Kakao Yang Nyaris Jadi Preman Kampung

id Doktor kakao, preman kampung, luwu utara, mars

Doktor kakao, Alexander di kebun miliknya di Desa Kalotok, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Minggu (19/20). (FOTO/Dokumentasi)

Luwu Timur (Antara Sulsel) - Pada 19 November 2017, waktu menunjukkan pukul 09.40 Wita, rombongan Mars Tarengge Trip 2017 memulai perjalanan melalui penerbangan dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan.

Tim akhirnya tiba dengan selamat di Bandara Bua Kota Palopo pada pukul 10.30 waktu setempat. Waktu tempuh oleh pramugari dikatakan lebih cepat karena kondisi cuaca yang begitu mendukung pada hari Minggu (19/11) itu.

Rombongan Mars Tarengge Trip 2017 kemudian melanjutkan perjalanan ke tujuan awal dalam tur yang diikuti beberapa media lokal dan nasional itu di Desa Kalotok, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara, untuk menemui langsung salah seorang "Cocoa Doctor" atau doktor kakao bernama Alexander.

Disambut dengan sinar matahari yang cukup menyengat, peserta rombongan akhirnya tiba di tempat tujuan. Tim langsung turun satu-persatu dengan perasaan campur aduk yang mungkin karena efek kepanasan akibat salah satu mobil memang tengah mengalami masalah di bagian pendingin udaranya.

Mendengar instruksi salah seorang perwakilan PT Mars Indonesia, tim mulai melangkahkan kaki menelusuri jalan setapak yang jaraknya ke kebun kakao milik Alexander mencapai ratusan meter.

Melewati jembatan kecil seadanya namun cukup kokoh karena terbuat dari bambu dan papan sehingga bisa dilewati kendaraan bermotor, tim akhirnya sampai ke lokasi yang dituju.

Tim bertemu secara langsung dengan doktor kakao bernama Alex di kebun miliknya. Alexander dengan pakaian kaos berkerah dibalut celana jeans dan sepatu booth atau sudah terlihat seperti petani milenial itu menyambut kami dengan begitu bersahabat.

Tapi sebelum bercerita lebih panjang, tim lebih dulu diminta berkumpul dan mendapatkan penjelasan kondisi lahan Alexander yang dipenuhi buah kakao dan sebaliknya pada kebun yang disebelah justru begitu kontras karena pemiliknya diketahui tidak fokus merawat kebun kakao tersebut.

Sekitar lima menit melakukan briefing, rombongan akhirnya dipersilakan melihat lebih dekat kebun kakao milik Alexander yang memang membuat kita langsung berfikir untuk meninggalkan pekerjaan sebagai jurnalis dan menjadi seorang petani kakao karena produksinya yang begitu besar.

Alex kemudian menceritakan awal kisahnya hingga bisa menjadi doktor kakao dengan penghasilan yang melimpah. Cocoa doctor sendiri merupakan gelar yang diberikan PT Mars Symbioscience Indonesia kepada petani yang telah mengikuti dan lulus di Cocoa Academy PT Mars Indonesia.

Pada 2015, ayah dua anak itu memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan orang tuannya untuk menjadi seorang petani kakao. Namun karena ketiadaan kemampuan dan hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun dari orang tua membuat hasil panen tidak maksimal.

Kondisi penghasilan yang tidak menentu itu membuat dirinya memutuskan berhenti menjadi petani kakao dan memilih berangkat ke Kalimantan Timur untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Segala jenis pekerjaan dilakukannya untuk bisa mendapatkan rupiah demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mulai dari pekerja bangunan, buruh angkut dan sebagainya telah dicoba namun juga tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Merasa tidak ada perubahan sesuai keinginan, setahun kemudian ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Alexander kemudian mendapatkan kesempatan untuk belajar menjadi petani kakao yang sukses di Cocoa Academy yang merupakan program pembinaan dari PT Mars Indonesia.

Setelah beberapa bulan menjalani pelatihan dan dinyatakan lulus serta berhak menyandang gelar sebagai Cocoa Doctor, Alex kemudian menerapkan ilmu yang didapatkan di kebun miliknya dan ternyata hasil produksi kakao miliknya jauh bertambah.

"Untung ada PT Mars Indonesia yang memberikan pelatihan bagaimana menjadi petani yang sukses. Jika tidak ada bantuan PT Mars, saya mungkin sekarang ini sudah menjadi preman kampung di sini," katanya.

Setelah sukses mempraktikkan segala ilmu yang didapatkan, dirinya tanpa paksaan juga mencoba melakukan hal yang sama kepada para petani yang lain di daerah itu.

Saat ini, dia mengaku telah memiliki ratusan petani binaan yang juga sudah belajar darinya secara langsung. Apa yang dilakukan tentu semata-mata bagaimana agar sesama para petani bisa mendapatkan hidup yang lebih layak.

"Saya begitu berterima kasih kepada PT Mars Indonesia yang membuat saya bisa seperti sekarang ini. Menjadi petani kakao itu memang butuh pengetahuan agar hasil panennya bisa meningkat," ujarnya.

Hasil Panen Meningkat Berton-ton

Melalui pendidikan atau ilmu yang telah dipelajari termasuk dorongan dari PT Mars, membuat Alexander bisa merasakan langsung hasil atau produksi kakao jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Untuk lahan seluas satu hektare biasanya hanya mampu menghasilkan sekitar 300 kg kakao selama setahun. Namun dengan pengetahuan dan ilmu yang didapatkan dari PT Mars, bisa meningkat hingga 14-20 ton kakao basah dalam setahun.

Pengetahuan yang didapatkan mulai dari cara menanam seperti sambung pucuk, sambung batang dan sambung samping hingga cara menangani dari serangan hama dan gangguan yang lain membuat produksinya begitu meningkat.

Dirinya mengakui untuk menjadi petani kakao memang butuh ilmu dan pengetahuan sehingga hasil produksinya bisa meningkat.

"Untuk kebun yang lain memang masih kesulitan dan panennya juga terkadang tidak teratur. Berbeda dengan kami yang sudah bisa panen dua kali sebulan sepanjang tahun," katanya.
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar