Abdropause, kala keperkasaan pria pudar

id Abdroopause,kala keperkasaan pria pudar,dr dito anurogo

dr Dito Anurogo, MSc (Foto Istimewa)

Tidak hanya kaum perempuan, kaum pria pun mengalami menopause. Istilahnya unik, yakni andropause. Penjelasan berikut ini menguak misteri menopause pada pria.

Andropause memiliki banyak nama antara lain sindroma andropause, ADAM (Androgen Deficiency of the Aging Male), PADAM (Partial Androgen Deficiency in the Aging Male), PTDAM (Partial Testosteron Deficiency in the Aging Male), LOH (Late Onset Hypogonadism), Symptomatic Late Onset Hypogonadism (SLOH), menopause pada pria, climacterium pada pria, adrenopause, androclise, somatopause, viropause.

Terminologi "male climacterium" pertama kali diperkenalkan oleh A.A. Werner tahun 1939 untuk mendeskripsikan berkurangnya androgen terkait usia dan gejala yang menyertainya.

Kemudian pada tahun 1944, Hellers dan Meyers menggunakan istilah "menopause pria" untuk menjelaskan beragam keluhan yang menyertai proses penuaan pria.

Sejak itulah konsep penurunan fungsi testis terkait usia mengalami pasang-surut hingga memasuki era renaissance pada awal tahun 1990-an.

Andropause berakar dari kata Yunani kuno "Andras" (manusia pria) dan "pause" (berhenti). Secara harfiah, "andropause" didefinisikan sebagai sindrom terkait dengan penurunan kepuasan seksual atau berkurangnya perasaan sejahtera secara umum (general well-being) disertai rendahnya kadar testosteron pada pria lanjut usia.

Singkatnya, andropause berarti sekumpulan gejala, tanda, dan keluhan pada pria yang mirip menopause.

Andropause umumnya dimulai pada usia 40-60 tahun. Penyebab andropause multifaktorial, meliputi: faktor lingkungan, berupa pencemaran/polusi lingkungan, pengaruh bahan kimia (termasuk  bahan pengawet makanan, limbah), kurang tersedianya air bersih, suasana lingkungan, kebisingan, ketidaknyamanan tempat tinggal, diet, pola makan.

Faktor organik, yakni perubahan hormon, seperti: testosteron, DHEA (dehydroepiandrosteron), DHEA-S (Dehydroepiandrosteron Sulfat), melatonin, GH (Growth Hormone), IGF-1 (Insulin-like Growth Factor-1), prolaktin.

Faktor psikogenik, misalnya stres psikis dan fisik, pensiun, tujuan hidup yang tak realistis, penolakan terhadap kemunduran tubuh, kemampuan berpikir, disertai perasaan takut (takut tua, ditinggalkan istri, pendapatan berkurang, sakit, mati).

Faktor risiko andropause termasuk penyakit kronis, seperti diabetes mellitus, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), penyakit artritis inflamasi, penyakit ginjal, sindrom metabolik, obesitas, penyakit terkait HIV (human immunodeficiency virus), dan hemokromatosis.

 
Patomekanisme

Hormon testosteron pria menurun sekitar 1-15 persen per tahun, dimulai pada usia 45 tahun. Patomekanisme (proses terjadinya) andropause melibatkan beberapa jalur yang mengakibatkan penurunan kadar testosteron, berupa penurunan fungsi sel-sel Leydig dan aksis pituitari-hipotalamus, peningkatan kadar SHBG (sex hormone-binding globulin), yang terjadi seiring meningkatnya usia dan mengakibatkan berkurangnya kadar testosteron bebas, keberadaan lemak viseral.

Jaringan adipose viseral adalah jaringan adipose yang paling aktif dimetabolisme tubuh manusia, disalurkan melalui vena portal menuju hati, menyebabkan hiperinsulinemia perifer dan resistensi insulin sistemik. Jaringan viseral memproduksi sitokin-sitokin inflamasi, berakibat terjadinya disfungsi endotel dan penyakit vaskuler.

Penurunan sensitivitas reseptor-reseptor testosteron, terutama yang berada di sistem saraf pusat, dapat menjelaskan penurunan hasrat seksual pada pria yang sedang mengalami proses penuaan serta kebutuhan akan testosteron dalam dosis yang lebih tinggi saat terapi hipogonadisme.

  
Manifestasi Klinis

Terjadi perubahan mental dan psikis (psikologis), bisa berupa kelelahan mental, seperti: mudah lupa, perasaan tanpa gairah, merasa kurang energi, sering mengantuk, mudah tersinggung, berkurangnya refleks dan kesiagaan.

Terjadi penurunan fungsi fisiologis, seperti: berkurangnya libido (hasrat seksual), perubahan tingkah laku seksual, berkurangnya ketajaman mental/intuisi, berkurangnya kemampuan ereksi.

Terjadi perubahan tingkah laku, seperti: berusaha berpenampilan muda, rasa takut yang berlebihan akan menurunnya kesehatan, pencegahan atau pengobatan berlebihan, petualangan seksual.

Dapat pula disertai berbagai keluhan, misalnya depresi, tidak tenang, tidur gelisah, tidak enak badan, cemas, suasana hati sering berubah-ubah, takut sakit, takut mati, takut kehilangan (status sosial, respek dari kolega, kontrol diri), merasa tidak mampu (bekerja, olah-raga, berprestasi), tertidur setelah makan malam, kekuatan dan ketahanan otot menurun, tinggi badan berkurang, sedih dan/atau uring-uringan, berkurangnya kenyamanan dan kesenangan hidup (tidak bisa lagi menikmati hobi, tidak suka bepergian, tidak suka lagi menonton film).

Selain itu juga terjadi perubahan hormonal yang harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium. Adapun dua kuesioner terpopuler untuk mengevaluasi intensitas keluhan penderita andropause adalah skala AMS (Ageing Males Symptoms) dan skala ADAM (Androgen Deficiency in Ageing Males).

  
Solusi

Dukungan psikologis, pemberian multivitamin (terutama vitamin E dan D), pemberian tambahan kalsium. Jika terjadi penipisan rambut atau kebotakan, dapat diberi: minoxidil, tretinoin, finasteride, 17-estradiol konsentrasi 0,025 persen.

Pada penurunan libido maka atas petunjuk dokter, dapat diterapi dengan hormon testosteron, pemberian substitusi hormonal atau HRT (hormone replacement therapy), subtitusi hormon (testosteron, DHEA, melatonin, GH, dan IGF-1).

Bila diberi terapi testosteron, maka kadar testosteron perlu dievaluasi 3-6 bulan setelah inisiasi terapi. Usia bukan kontraindikasi untuk inisiasi terapi testosteron. Terapi testosteron memiliki kontraindikasi absolut, yaitu kanker payudara (terjadi pada 1 persen pria) dan kanker prostat, juga efek kardiovaskuler berat.

Oleh karena itu, para peneliti telah memperkenalkan SARMs (selective androgen receptor modulators) untuk digunakan dokter saat berpraktik di klinik, bermanfaat untuk fungsi seksual, mood, pencegahan osteoporosis, tanpa risau akan terjadi efek samping sistem kardiovaskuler dan prostat.

 
Pencegahan

 Lingkungan perumahan yang tenang, nyaman, tempat tinggal yang "memadai",  mengutamakan keselamatan kerja jangka panjang, yaitu keselamatan dari efek samping penggunaan bahan kimia dan logam beracun dalam proses industri, bahan pengawet, debu atau partikel dalam industri, bahan beracun lain seperti: pestisida, insektisida, herbisida, dan sebagainya.

Menghindari paparan polusi udara, seperti polusi yang diakibatkan pembakaran industri, asap kendaraan bermotor, pembakaran sampah, "pembakaran hutan", asap rokok. Menghindari makanan yang banyak mengandung bahan pengawet. Mereka/menulis ulang tujuan hidup dan buatlah analisis secara realistis.

Mengurangi stres, misalnya dengan menyalurkan hobi, belajar menerima keadaan, jujurlah pada diri sendiri. Mempersiapkan masa pensiun, menghargai diri sendiri, mencoba memilih satu kegiatan yang menarik sedini mungkin. Komunikasi-sosialisasi yang baik.

Cobalah mencari dan menjadi sahabat yang baik dan setia. Belajarlah mengendalikan diri. Tidak perlu menjadi "superman". Banyak membaca buku.

Jagalah kebugaran jasmani dengan olahraga rutin dan teratur, alternatif olahraga yang dapat dilakukan: jalan cepat, jogging, lari-lari, lompat, berenang, badminton, dansa, yoga, bersepeda, aerobik, Tai chi/Qi gong, senam Kegel. Hindari/hentikan rokok.

Perbanyak mengonsumsi ikan laut atau minyak ikan minimal 2x seminggu. Usahakan berat badan ideal atau mendekati normal.

Jangan sembarangan minum obat atau jamu. Segeralah berkonsultasi dengan dokter jika testis kemeng, kencing sakit (anyang-anyangan), beser, ejakulasi dini, kencing mengejan atau tidak lancar.

  *) Penulis adalah dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah (FK Unismuh)  Makassar, dokter literasi digital, dan penulis 20 buku
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar