Aksi simpatik peringati Hari Anak di "flyover"

id hari anak, lisan sulsel, rusdin tompo

Diskusi memperingati Hari Anak-Anak Nasional yang dihadiri Ketua LISAN Sulsel Rusdin Tompo (dua kanan) dan Humas Kemensos UPT PSM Toddopuli Nur Alam (kiri) di bawah 'fly over', Makassar, Sabtu (23/7). (ANTARA FOTO/Suriani Mappong)

"Kegiatan aksi simpatik ini untuk memperingati Hari Anak-Anak Nasional 2016 yang mengusung tema `Menggugat Politik Perlindungan Anak...
Makassar (ANTARA Sulsel) - Aksi Simpatik memperingati Hari Anak-Anak Nasional 2016 dilakukan dengan menggelar diskusi tentang problematika anak di "Fly over", Makassar.

"Kegiatan aksi simpatik ini untuk memperingati Hari Anak-Anak Nasional 2016 yang mengusung tema `Menggugat Politik Perlindungan Anak`," kata Ketua Lembaga Studi Advokasi Media dan Anak (Lisan) Sulsel Rusdin Tompo di Makassar, Sabtu.

Aksi simpatik memperingati Hari Anak-Anak Nasional yang digelar dibawah "Fly over" diawali dengan diskusi, dilanjutkan dengan aksi damai membagikan permen yang diberi pesan tentang Kampanye Perlindungan Anak.

Pemilihan lokasi di bawah "fly over" itu, ungkap Rusdin, karena lokasi itu menjadi tempat aktivitas pekerja anak yang berada di jalan. Kegiatan diskusi itu sendiri difasilitasi Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) Makassar.

Pemerhati anak, Rusdin mengatakan, persoalan anak yang paling mendasar adalah terkait dengan hak pengakuan politik, salah satunya adalah pemberian akta kelahiran secara gratis.

"Ini adalah salah satu hak azasi anak, karena itu tema diskusi yang diangkat kali ini `Menggugat Politik Perlindungan Anak`," katanya.

Diskusi tersebut menghadirkan empat pembicara diantaranya Rusdin Tompo dan Humas Kementerian Sosial UPT PSM Toddopuli Nur Alam dengan moderator dari LPP RRI Meisye Sahetapi.

Menurut Rusdin yang juga mantan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Sulsel ini, pencatatan kelairan sangat penting, karena sejumlah persoalan anak dipicu dari ketidakadaan data ril yang sesuai dengan kondisi lapangan.

"Di Indonesia baru separuh anak yang memiliki akta kelahiran, sedang di Makassar terdapat sekitar 80 persen anak yang belum memiliki akta kelahiran," katanya.

Sementara Nur Alam mengatakan, pemberian simbol-simbol pada anak yang berhadapan dengan hukum dapat memangkas masa depan anak.

Dia mengatakan, pemberian simbol-simbol seperti `begal` dan sebagainya, dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak yang sebenarnya diharapkan menjadi pemimpin masa depan.

Aksi simpatik peringatan Hari Anak-Anak Nasional diakhiri dengan kehadiran siswa-siswa sekolah dasar yang menggelar spanduk dan pamflet yang menyerukan perlindungan terhadap anak.
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar