Banjir bandang di Sigi, "mungkin Tuhan mulai bosan?"

id banjir,sigi

Banjir bandang di Sigi,  "mungkin Tuhan mulai bosan?"

Warga berada di sekitar tumpukan material yang terbawa banjir bandang dan menerjang permukiman warga Dusun Pangana, Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (13/12/2019). ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/foc.

Sigi (ANTARA) - Pada Kamis (12/12), sekitar pukul 18.30 Wita, Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah yang padat penduduk diterjang banjir bandang.

Jatuh dua korban jiwa, anak dan ayahnya. Korban bernama Yan (50) dan Riski (10) ditemukan meninggal dunia di rumah mereka dalam kondisi tertimbun lumpur. Keduanya diduga kuat sedang tertidur pulas sehingga tidak sempat menyelamatkan diri dari bencana alam itu.

Istri Yan, Deice, sedang berada di Kota Palu, ibu kota provinsi itu ketika bencana datang. Menurut informasi, istri korban sehari sebelumnya meninggalkan desa tersebut untuk ke Kota Palu berbelanja berbagai kebutuhan Natal.

Kepergian ke Palu membuat Deice selamat dari kepungan banjir bandang dan lumpur yang memorak-porandakan rumah, jalan, dan jembatan di desa itu. Namun, ia harus merelakan suami dan anak tersayang menjadi mayat karena terperangkap banjir bandang di dalam rumahnya.

Tampak kesedihan mendalam di wajah perempuan itu saat tiba di lokasi banjir. Ia menemukan sang suami dan anaknya terbujur kaku dalam peti mayat. Isak tangis pun terus terdengar, membuat sanak keluarga, sahabat, dan warga larut pula dalam kesedihan.

"Selamat jalan papa dan selamat jalan anakku sampai ketemu di surga," kalimat itu tertulis di krans bunga.

Deice, satu-satunya warga Desa Bolapapu yang kehilangan suami dan anaknya karena permukiman itu diterjang banjir bandang.



Banjir bandang menerjang desa di lereng gunung berbatasan dengan kawasan hutan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) itu, juga mengakibatkan puluhan rumah warga di sejumlah dusun rusak. Setidaknya tercatat 57 rumah rusak terdiri atas tujuh rusak berat dan 50 rusak ringan.

Terlihat pula batu-batu besar dan potongan kayu terseret banjir hingga tempat itu, menutup jalan, dan permukiman mereka.

"Ini merupakan banjir bandang yang kedua kali," kata Yeye, warga setempat.

Banjir bandang terbesar pernah terjadi di daerah itu pada 3 Desember 2011, sekitar pukul 15.30 Wita.
Bencana itu, sebagai terparah dengan menelan banyak korban jiwa dan melumpuhkan perekonomian warga Desa Bolapapu.

Selain mencapai ratusan rumah rusak berat, tertimbun, dan hanyut, banjir bandang juga mengakibatkan sawah dan perkebunan kakao serta kopi hancur total. Banyak warga kehilangan mata pencarian dan tempat tinggal.

Bencana yang baru saja terjadi di Desa Bolapapu itu, mengejutkan warga setempat karena sebagian besar mereka sedang bersiap menyambut Natal pada 25 Desember mendatang dan Tahun Baru 2020.

Banyak di antara warga sudah membuat kue di rumah masing-masing untuk perayaan mendatang. Tetapi banjir bandang mengubur dan menghanyutkan tanda-tanda yang telah mereka buat untuk persiapan menyambut peristiwa itu.

"Saya sendiri tidak ada lagi yang tersisa. Semua perabot dalam rumah, termasuk kue untuk Natal hanyut dan tertimbun lumpur," kata Yeye dengan nada sedih.

Akan tetapi, dia juga bersyukur karena semua keluarganya selamat. Anggota keluarganya bisa menyelamatkan diri dari bencana dengan keluar rumah dan mencari tempat perlindungan yang lebih aman.



                                                                 Dikepung banjir
Ketua Yayasan Jabanta Sulteng Ais Celebes mengatakan beberapa wilayah di Kabupaten Sigi selama beberapa bulan terakhir dikepung banjir bandang.

Banjir bandang terparah pada April 2019, di mana sejumlah desa di Kecamatan Dolo Selatan dan Gumbasa diterjang bencana itu.

Ada empat desa di Kecamatan Dolo Selatan, yakni Bangga, Balongga, Wisolo, dan Pulu diterjang banjir bandang pada 28 April 2019. Bencana serupa dalam waktu bersamaan menghantam Desa Tuva, Omu, dan Saluki.

Cukup banyak rumah warga yang rusak dan hanyut diterjang banjir bandang. Bencana juga mengakibatkan kebun kakao dan kopi, serta sawah rusak.

Bahkan, jalan provinsi yang menghubungkan Kota Palu dengan desa-desa di Kecamatan Kulawi Raya (Kulawi, Pipikoro, Lindu, dan Kulawi Selatan) putus total. Jalan sepanjang 500 meter ambles diseret banjir, sedangkan potongan-potongan kayu besar dan kecil menutupi badan jalan antara Desa Saluki dan Desa Tuva.

Bencana alam serupa menerjang Desa Sapo, Namo, dan Sadaunta pada 13 Agustus 2019. Bencana itu sempat melumpuhkan jalur Palu-Kulawi karena putus selama beberapa hari. Yang terkini, banjir bandang menghajar Desa Bolapapu, Kamis (12/12).

Dari beberapa kali banjir bandang di Kabupaten Sigi, terlihat banyak material kayu terbawa arus air. Hal itu menjadi pertanyaan apakah bencana itu karena fungsi hutan semakin berkurang? Ataukah benar lirik lagu Ebit G Ade "Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, ataukah alam mulai enggan bersahabat dengan kita" karena ulah manusia yang tambah serakah dengan membabat hutan hingga habis untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Menurut Ais, lirik lagu tersebut perlu menjadi bahan perenungan semua orang bahwa hutan perlu dijaga, bukan sebaliknya dirambah atau digunduli hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi manusia.



Pemerintah daerah perlu melakukan tindakan tegas kepada para perambah hutan, sedangkan masyarakat harus menyadari bahwa hutan perlu dijaga dengan baik agar mereka terhindari dari bencana alam.

Seperti bencana di Desa Bolapapu, tidak semata-mata karena curah hujan tinggi, tetapi besar kemungkinan fungsi hutan semakin menurun.

                                                                  Terulang
Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menyebut banjir bandang yang menimpa masyarakat Dusun Pangana, Desa Bolapapu pada 2019, sebagai bencana yang terulang lagi setelah beberapa waktu sebelumnya terjadi hal serupa.

"Tentu kejadian ini tidak diduga oleh kita semua. Tapi sayangnya, kejadian ini adalah kejadian yang berulang," ucapnya saat mendampingi Kepala BNPB Doni Monardo meninjau daerah terdampak banjir bandang di desa itu.

Ia mengingatkan bahwa bencana serupa pernah terjadi sekitar delapan tahun lalu.

"Kalau tidak salah saya, delapan tahun yang lalu saya juga hadir di tempat ini. Saat itu korban kalau tidak salah enam orang," ujarnya.



Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya masyarakat menyadari bahwa bencana tersebut sebagai peristiwa yang terulang kembali.

"Ini kejadian yang berulang. Jadi tolong bapak-bapak di Bolapapu camkan betul kata-kata saya ini, ini kejadian yang berulang. Artinya, ke depan kejadian ini mungkin terjadi lagi, apakah kita mau menerima lagi kejadian itu atau kita harus hindari," katanya.

Ungkapan belasungkawa kepada warga Bolapapu karena ditimpa bencana serupa yang kali ini mengakibatkan jatuhnya dua korban jiwa, juga disampaikan Gubernur Longki.

Gubernur dan bupati, ucapnya, kemungkinan sudah berkali-kali mengingatkan potensi bencana alam di daerah itu sehingga warga harus memperhatikan dengan saksama.

"Mungkin bupati ngomong, surat, sudah berkali-kali. Saya gubernur juga sudah memperingatkan berkali-kali, tetapi tetap tidak didengar. Maka inilah kejadiannya," kata dia.

Para pemuka warga dan tokoh adat, khususnya di Kulawi, memiliki peranan kuat di masyarakat dalam menjaga adat, melestarikan lingkungan dan hutan, untuk mencegah terjadinya bencana alam.

"Tolonglah, adat diberlakukan untuk itu," kata dia.

Dibutuhkan kepatuhan masyarakat terhadap perintah, imbauan, dan peringatan dari pemerintah untuk mereka menjaga hutan dengan tidak lagi membuka kebun baru, sebab permukiman di daerah itu berada di bawah lereng.

Jadikan hutan sebagai sahabat yang perlu terus dirawat, bukan sebaliknya dibabat untuk kepentingan apapun itu.


 
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar