Mamuju (ANTARA News) - Tambang biji mangan di Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, awalnya ditemukan seorang Sarjana Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Provinsi Sulawesi Selatan, Nurdin Ashat ST.
"Pada awalnya penelitian kami ditujukan untuk melakukan survei mencari bahan galian Batubara namun ternyata dalam survey itu kami menemukan tambang biji mangan yang potensinya sangat besar di Kecamatan Bonehau Kabupaten Mamuju," kata Nurdin Ashat di Mamuju, Rabu.
Ia mengatakan, penelitian tersebut dilakukan tidak mudah karena kondisi jalan sebagian yang tidak beras dan hanya dilakukan pengerasan bahkan harus dilakukan pendakian di gunung yang terjal, berkelok dan badan jalan sebagian masih sempit.
Nurdin yang juga putera asli daerah Kabupaten Mamuju mengatakan, penelitian dan survey yang dilakukan di Kecamatan Bonehau Kabupaten Mamuju pada awal tahun 2007 tersebut, menemukan potensi tambang mangan kurang lebih sekitar 7000 hektare dengan perkiraan cadangan sumber daya sekitar 1,5 juta ton.
Menurut dia, potensi mangan yang ditemukan dalam wilayah Blok Batubara yang diteliti itu kemudian di eksplorasi secara khusus bahkan telah sempat diekspor ke negara China melalui kerjasama investor dengan Pemerintah Kabupaten Mamuju.
"Setelah mangan ditemukan dan akan dieksploitasi sangat berdampak positif bagi masyarakat karena mereka berlomba-lomba mencari mangan di lokasi kebunnya maupun dalam hutan yang didalamnya terdapat potensi mangan bahkan mendapatkan ganti rugi dari investor atas lahannya yang dieksploitasi,"katanya.
Menurutnya ditemukannya mangan di Kecamatan Bonehau akhirnya telah memberdayakan masyarakat setempat karena telah dijadikan tenaga kerja setelah mangan yang dikelola investor menghasilkan dan potensi lahan yang dikelola terus diperluas.
"Mangan yang notabene sangat dibutuhkan untuk kepentingan industri baja nasional maupun internasional telah memberikan kesejahteraan bagi masyarakat mengingat harga mangan yang relatif tinggi dibandingkan batubara dan logam lain seperti bijih besi di pasar luar negeri,"katanya.
Nurdin mengatakan, sebelum ditemukan, mangan tersebut dulunya dibenci oleh Masyarakat Bonehau khususnya masyarakat yang gemar merambah hutan untuk mencari kayu, berburu, bahkan membuka lahan untuk berkebun, disebabkan karena material mangan yang sangat keras muncul di permukaan tanah sangat tajam dan sering kali mencederai kaki masyarakat yang tanpa alas menginjaknya.
Ia berharap mangan yang sudah ditemukannya itu dapat terus dikembangkan pemerintah dengan menjalin kerjasama investor, dalam rangka meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Mamuju, berdasarkan kaidah-kaidah pertambangan dan mengutamakan pelestarian lingkungan hidup.
"Mangan diharapkan dapat memperkenalkan Mamuju pada khususnya dapat memperkenalkan Provinsi Sulbar ke tingkat nasional, bahkan kepada negara maju di dunia, seperti negara industri maju Korea dan China bahwa Mamuju memiliki kekayaan melimpah dalam bidang pertambangan," katanya. (T.KR-MFH/Y008)

