Demo BNI Makassar Mahasiswa Dihadang `Orang Bayaran`

id Demo bni, orang bayaran

Makassar (Antara Sulsel) - Puluhan mahasiswa mengatasnamakan Himpunan Aktivitas Mahasiswa (HAM) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) saat hendak aksi di kantor BNI Cabang Makassar jalan Jenderal Sudirman, Makassar, mendapat hadangan dari sejumlah orang yang diduga bayaran.

"Belum sempat kami mengelar aksi, orang-orang ini datang langsung membubarkan kami, bahkan beberapa teman terkena pukulan, seolah-olah kami kriminal," kata Koordinator Lapangan Aksi, Dedi Jalal Kambang saat temu wartawan di Makassar, Sulawesi Selatan.

Aksi tersebut kata dia, terkait dengan dugaan kriminalisasi pihak Bank BNI terhadap nasabah prioritasnya Ambo Ala yang dilakukan direksi bernama Jefri Robert Lawakabesi.

"Kami awalnya hanya ingin menyampaikan aspirasi dan meminta klarifikasi pihak BNI terkait pelanggaran prosedur dilakukan oknum direksi BNI Makassar. Selain itu mendesak BNI segera meminta maaf atas perbuatan oknum itu menagih tidak sesuai standar termasuk mencopot yang bersangkutan," bebernya.

Menurut dia, aksi koboi dilakukan diduga orang bayaran itu terhadap penghentian paksa dengan cara preman, jelas melanggar aturan. Bahkan sangat tragis sejumlah polisi yang berjaga-jaga saat kejadian itu hanya menyaksikan dan tidak ada upaya mencegah pemukulan.

Tidak hanya itu, pembubaran disertai pemukulan tersebut diduga sudah disetting pihak tertentu agar Bank BNI tidak di demo. Mengenai dengan izin, kata Dedi, pihaknya sudah bersurat ke Kepolisian jauh sebelum aksi itu digelar.

"Kami sudah bersurat ke polisi, tetapi mereka tidak. Kami tidak tahu siapa mereka, diduga mereka dibayar untuk membubarkan kami secara paksa. Kami tidak terima dituduh membawa senjata tajam, karena sejak awal kami tidak membawa itu, mereka sengaja menaruh di dalam tas yang diambil saat kejadian itu, kami ada rekamannya, "ungkap dia.

Terkait dengan perlakukan kekerasan yang dialami, pihaknya akan melaporkan hal itu ke Polda Sulsel perihal kejadian itu dan meminta kepolisian mengusut siapa-siapa aktor dibalik penyerangan tersebut.

Pihak BNI melalui Tony usai kejadian itu berdalih tidak tahu menahu adanya aksi maupun penyerangan yang mengakibatkan sejumlah mahasiswa luka-luka diserang orang diduga dibayar untuk menghalau aksi.

"Saya tidak tahu kalau kejadiannya seperti itu, kalaupun aksi itu dibubarkan paksa orang lain, saya juga tidak tahu siapa-siapa orangnya,"tuturnya.

Kapolsek Ujungpandang Kompol Wahyu Basuki pada kesempatan itu membenarkan adanya aksi penyerangan sekolompok orang kepada para mahasiswa saat hendak melakukan aksi di kantor BNI Cabang Makassar.

"Salah satu kelompok ini menyerang kelompok mahasiswa yang mau demo, lalu terjadi bentrokan. Sesaat setekah bentrok anggota membubarkan dua kelompok ini. Satu tas dari mahasiswa berhasil disita didalamnya ada anak panah. Jelasnya, kami akan mendalami kasus ini,"ujar dia.

Diketahui, kasus ini bermula saat salah satu seorang direksi BNI Makassar Jefri Robert Lawakabesi menyuruh anggotanya bersama tiga oknum polisi menagih kredit ekspor ke pengusaha properti itu saat malam zikir Idul Adha.

Saat ditemui Ambo Ala meminta agar nanti dibayarkan setelah lebaran, karena akan mengelar pengajian, mengingat selama ini tagihan tidak pernah terlambat dibayarkan. Namun Jefri meminta anggotanya untuk menagih hari itu juga dan tidak boleh pulang tanpa membawa uang.

Ambo Ala pun menelepon Jefri untuk menunda sementara waktu pembayaran sebab sedang melaksanakan hajatan, namun apa yang didapatkan hanya makian kala itu. Bahkan, penagihan yang dilakukan tidak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) Bank tersebut.

Karena merasa dilecehkan, Ketua Ikatan Saudaga Muslim Indonesia (ISMI) Kota Makassar ini menyampaian kepada anaknya, sehingga mendatangi Jefri di kantor, tetapi bersangkutan memilih pulang di rumahnya. Saat didatangi ke rumahnya, puluhan preman telah berjaga-jaga.

Beruntung anak Ambo Ala, mengenal preman tersebut, terjadi pertengkaran antar ke duanya dan karena tersulut emosi, akhirnya menampat Jefri, selanjutnya berbuntut panjang hingga dilaporkan ke polisi.
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar