"Brigade Go-jek Rescue Makassar" terlahir dari kekhawatiran

id Aplikasi go-jek

Pengemudi gojek (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)

Makassar (Antaranews Sulse) - Lahir dari sebuah ide kreatif dengan konsep yang lebih matang, layanan pengantaran berbasis aplikasi GO-JEK sejak awal kemunculannya hingga saat ini tampil sebagai primadona dan menjadi pusat perbincangan.

Kemudahan yang menjadi andalan dari aplikasi ini membuat pamornya di masyarakat khususnya di daerah perkotaan terus melejit dan menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan masyarakat.

Kondisi itu ternyata tidak hanya menjadi perhatian dari masyarakat yang tertarik menggunakan aplikasi tersebut. Namun hal itu ternyata juga mampu menggoda masyarakat lain yang kebetulan membutuhkan pendapatan ditengah ketatnya persaingan memperoleh pekerjaan di kota besar dengan menjadi pengemudi GO-JEK.

Alhasil, dari bulan ke bulan bahkan tahun ke tahun semakin banyak masyarakat yang kemudian memilih untuk bergabung sebagai driver GO-JEK. Khusus untuk Sulsel sendiri meski belum ada data resmi soal jumlah pengemudi dari aplikasi itu, namun dipercaya jumlahnya begitu signifikan.

Tetapi dibalik perkembangan dan peningkatan aplikasi ini termasuk jumlah pengemudi GO-JEK yang semakin besar, ternyata secara langsung ataupun tidak langsung memberikan efek atau melahirkan kecemburuan dari pengemudi ojek yang lebih dulu beroperasi.

Selain pengemudi ojek pangkalan, untuk Makassar juga ada satu komunitas lagi yang tidak begitu respon dengan kehadiran GO-JEK yakni pengemudi becak motor atau yang akrab disebut bentor.

Penyebabnya pengemudi ojek pangkalan merasakan pendapatannya mengalami penurunan drastis setelah beroperasinya pasukan hijau-hijau tersebut.

Berkurangnya pendapatan dari ojek pangkalan ataupun becak motor di Makassar memang sulit terhindarkan. Sebab dari segi biaya yang harus dikeluarkan penumpang, sudah menjadi rahasia umum jauh lebih murah dibandingkan menggunakan ojek pangkalan ataupun becak motor.

Selain masalah biaya, aplikasi GO-JEK yang bisa diakses melalui smartphone membuat masyarakat lebih mudah untuk pemesanannya.

Akibat kondisi yang demikian sehingga tidak jarang terjadi gesekan di antara driver GO-JEK dan tukang ojek pangkalan ataupun pengemudi becak motor.

Bahkan dalam beberapa kejadian di beberapa wilayah di tanah air, tidak sedikit driver GO-JEK menjadi korban atau jadi bulan-bulanan dari pihak yang merasa dirugikan dengan keberadaannya.

Selain ancaman dari para pesaing di lapangan, bahaya menjadi korban kriminalitas dari orang yang tidak bertanggung jawab juga cukup besar potensinga dan juga cukup sering terjadi di beberapa daerah.

Dari sekian banyak ancaman inipun yang membuat komunitas GO-JEK Makassar kemudian mendirikan Brigade Gojek Rescue (BGR) Makassar pada 11 Maret 2018.

"Kami membentuk BGR ini berawal dari banyaknya laporan dari teman-teman driver yang selalu mendapatkan kejadian-kejadian di lapangan termasuk perkelahian," kata Humas dan IT BGR Makassar Hendra Saputra.

Kebetulan saja, saat itu di antara para driver GO-JEK, ada satu orang yang mempunyai kelebihan atau kemampuan karena merupakan salah atau guru dari perguruan pencak silat yang bernama Ahmadi.

Melihat kekhawatiran dari sesama driver membuat Ahmadi tanpa diminta langsung setuju membentuk BGR. Namun hal itu juga tidak berjalan lancar karena tidak sedikit yang ragu dan melihatnya tidak penting.

"Namun saya salah satunya memberikan respon baik dan langsung mengajak untuk melakukan pertemuan yang kemudian disepakati untuk membentuk Brigade Gojek Rescue Makassar," ujarnya.

Pada awal terbentuknya, BGR begitu banyak yang bergabung.Namun dalam perkembangan terus berkurang hingga saat ini hanya mencapai puluhan yang tetap bertahan.

Di Makassar sendiri saat ini memiliki dua komunitas yakni SGM Solidaritas Gojek Makassar dan BGR yang tetap bersinergi dan menjaga komunikasi.

Khusus untuk anggota BGR sendiri, memiliki grup WhatsApp yang dinamai brigade sektor cepat. Sementara anggota BGR mengalami masalah, maka mereka akan langsung merespon dengan cepat untuk berupaya menghentikan ataupun memberikan bantuan pertolongan.

Pihaknya juga sudah mengalami beberapa kejadian seperti yang ditumpahkan itu merupakan guru besar pula yakni pak Ahmadi. Saat itu, HP yang disimpan di jok motor ternyata diambil oleh pencuri namun kemudian karena kesigapan mereka sehingga bisa menangkap pelakunya.

"Saat HPnya hilang, langsung mengabarkan melalui grup WA dan anggota langsung bergerak.Alhamdulillah, kita berhasil menangkap pelakunya," sebut dia.



BGR Gelar Bakti Sosial

Brigade Go-jek Rescue (BGR) Makassar melakukan kegiatan bakti sosial dengan berbagi bersama tukang becak dan becak motor (bentor) di Makassar sebagai wujud syukur dari komunitas tersebut setelah diterima sebagai bagian dari keluarga Go-Jek Makassar.

Terkait alasan komunitas ini menyasar tukang becak dan bentor di Makassar, juga sebagai bagian dari ajang sosialisasi sekaligus melakukan silaturahmi.

Apalagi tukang becak atauun bentor, menurut dia, juga menjadi salah satu pihak yang selama ini terkadang tidak begitu respon dengan kehadiran pengemudi gojek di daerah tersebut.

Kegiatan bakti sosial yang manfaatkan sebagai ajang silaturahmi ini diharapkan membuat hubungan antara pengemudi gojek dan tukang becak ataupun bentor bisa lebih bersinergi dalam mencari penghidupan di Kota Daeng.

"Tukang becak dan bentor memang selama ini selalu kurang suka dengan keberadaan para driver gojek. Nah, melalui ajang ini, kita sekaligus ingin menyampaikan jika kami ini bisa bersahabat dengan mereka," jelas Guru besar BGR Makassar Ahmadi.



Gubernur Sulsel Usul Gojek Reaksi Cepat

Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel Soni Sumarsono menyarankan Gojek membentuk unit reaksi cepat untuk membantu menjaga keamananan para pengemudi ataupun masyarakat di daerah itu dari tindakan kejahatan.

Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono mengaku mengapresiasi denga terbentuknya Brigade Gojek Rescue (BGR) Makassar oleh para pengemudi gojek yang memiliki ketangkasan bela diri dalam upaya menjaga keselamatan mereka saat bertugas di lapangan.

"Saya mengapresisi inisiasi para driver gojek untuk brigade (BGR) untuk pengamanan. Namun saya lebih suka jika kemudian dibentuk Gojek Reaksi Cepat yang tentu anggota brigade inilah yang berada didalamnya," ujarnya.

Adapun fungsi atau tujuan dari tim reaksi cepat gojek ini, kata dia, yakni ketika para pengemudi gojek melihat ada kejadian atau justru mengalami sendiri tindakan krimimal atas dirinya saat melaksanakan pekerjaanya, maka bisa memberikan reaksi.

"Banyangkan saja jika tiba-tiba gojek bisa bertindak dan menolong orang itu, minimal melaporkan ke polisi misalnya, itu merupakan inti reaksi cepat," jelasnya.

Ia menjelaskan, jika bisa dilakukan maka kehadiran gojek tidak hanya sebagai sarana transportasi bagi masyarakat, namun juga memberikan peran lebih yakni membantu menjaga keamaman dengan berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

Dirinya juga ingin ada sarana khusus yang disedikan pihak Gojek dimana hanya dengan menekan tombol dan sudah bisa langsung tersambung ke pihak kepolisian terdekat di daerah kejadian,

Dan itu tentu merupakan hal yang positif dan ini sepatutnya menjadi perhatian dan dapat difikirkan oleh manajemen Gojek.

Sehingga bisa cepat melakukan menolong jika terjadi tindakan kriminal. Jika demikian maka memberikan peran serat dalam masyarakat.

"Jadi bukan hanya membela diri, namun minimal melaporkan ke pihak kepolisian. Tentu kita bersyukur kalau yang pertama menolong itu dari orang-orang yang didominasi jaket hijau (pengemudi gojek), maka akan memberikan kesan yang begitu positif bagi masyarakat," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar