Penenun Sa`dan bertahan dari gempuran motif Toraja

id tenun sa'dan, toraja utara

Festival Tenun Sa'dan 2017 (halotarajautara.com)

Kami sangat berharap agar kain Toraja ini memiliki hak paten. Kami berharap pemerintah bisa membantu untuk keberlangsungan hidup para penenun Sa`dan
Berbicara soal para penenun tradisional Sa`dan Barana di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, memang bukan kabar yang baru.

Tidak sedikit pengunjung atau wisatawan baik lokal, nasional hingga internasional datang untuk melihat aktivitas mereka secara langsung.

Daya pikat tenun Sa`dan menjadikan kawasan kerajinan tenun tersebut sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Toraja Utara, dan namanya semakin dikenal luas.

Keberadaan rumah tradisional Tongkonan yang sudah tua serta beberapa yang lebih baru atau yangh telah direnovasi, membuat Sa`dan menjadi salah satu magnet bagi wisatawan yang datang ke Toraja Utara.

Namun belakangan ini, ada sesuatu yang membuat para penenun setempat harus bekerja lebih keras dan melakukan inovasi demi menjaga eksistensi sekaligus melindungi kebuadayaan asli Toraja Utara itu dari kepunahan.

Sesuatu yang dimaksud itu yakni munculkan kain-kain dengan motif Toraja yang selama ini menjadi kebanggaan para penenun Sa`dan.

Kain motif Toraja yang sudah banyak diperjual-belikan baik secara online, ataupun dijual langsung ke pelanggan termasuk di pasar-pasar di Toraja Utara itu berasal dari Jepara, Jawa Tengah.

"Gempuran kain dengan motif Toraja asal Jepara, sudah hadir sejak setahun terakhir. Keberadaan kain motif Toraja ini memang membuat pendapatan kita menurun," kata salah satu penenun Sa`dan bernama Armina.

Kain dengan motif Toraja asal Jepara yang ditawarkan dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan hasil tenunan tradisional Sa`dan, membuat masyarakat tertarik untuk membelinya khususnya mereka yang tidak banyak memahami kualitas asli dari produk tersebut.

Untuk perbandingkan harganya cukup jelas, kain motif Toraja bukan tenun bisa dijual dengan harga hanya puluhan ribu, sementara untuk kain tenun yang asli harganya mencapai ratusan ribu rupiah.

Jika dilihat sepintas, kedua kain tersebut tampak sama, yang membedakan adalah soal kualitas karena tenun asli Toraja Utara itu tahan lama, tidak mudah mengkerut dan bebas luntur.

Sementara masyarakat pembeli tidak terlalu peduli untuk memilih kain motif Toraja yang asli atau sebaliknya, namun harga kain yang jauh lebih murah menjadi magnet tersediri.

"Semua motif asli Toraja sudah ditiru. Kita juga berharap agar masyarakat bisa lebih cermat karena kualitas yang asli tentu jauh lebih baik," ujar Armina.

Untuk menyiasati kondisi yang semakin buruk, para penenun Sa`dan mencoba beberapa upaya untuk memasarkan produk mereka termasuk menawarkan produk itu di toko online.

Para penenun juga akan terus menjalani profesi sebagai penenun bukan hanya untuk perekonomian namun juga menjaga budaya dan ciri khas dari Sa`dan di Toraja Utara.

Penenun Lainnya Skatta Pongulabba, mengatakan dirinya juga tidak jarang mengajarkan cara menenun kepada para wisatawan yang datang berkunjung di salah satu lokasi destinasi unggulan Toraja Utara tersebut.

Dia dengan ramah dan sabar menjelaskan kepada para wisatawan tentang tahap dalam proses pembuatan kain Toraja.

Untuk mewarnai kain tenun Toraja itu dilakiukan dengan pewarnaan alami yaitu menggunakan bahan bahan yang diambil dari alam, misalnya untuk mendapatkan warna merah maka para penenun memilih mengunakan kulit pohon.

"Biasanya banyak siswa dari berbagai daerah hadir dan tertarik untuk belajar menenun. Bahkan ada yang sampai tiga hari datang untuk belajar lebih dalam lagi," ujarnya.

Sa`dan merupakan pusat tenun di Kabupaten Toraja. Untuk menjangkaunya juga tidak sulit karena jalur transportasi bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat.

Waktu tempuh yang dibutuhkan ke perkampungan yang menurut sejarah dibentuk oleh nenek moyang keluarga To`barana setelah mendirikan sebuah tongkonan yang bernama To`Barana itu juga tidak begitu lama. Bahkan jika kita berangkat dari Kota Rantepao, Toraja Utara, maka diprediksi memerlukan waktu minimal 30 menit.



Hak paten tenun motif Toraja



Selain menjual secara online dan mengajarkan ke para wisatawan, para penenun Sa`dan juga memiliki harapan agar tradisi kebudayaan yang telah mereka lakukan sejak lama itu tetap bertahan dan tidak terlindas zaman.

Harapan besar para penenun itu adalah adanya keterlibatan pihak pemerintah untuk membantu menjaga dan melestarikan. Salah satu yang penting untuk segera dilakukan yakni mengurus pembuatan hak paten.

Dengan adanya hak paten maka tentu motif kain Toraja bisa lebih terjaga dan tidak lagi bisa ditiru oleh pengusaha dengan modal yang begitu besar.

"Kami sangat berharap agar kain Toraja ini memiliki hak paten. Kami berharap pemerintah bisa membantu untuk keberlangsungan hidup para penenun Sa`dan," kata Armina.

Keberadaan para penenun Sa`dan juga bukan hanya untuk meningkatkan perekonomian penenun, namun sekaligus meningkatkan pendapatan daerah dari para wisatawan sehingga memang patut menjadi perhatian dari pemerintah setempat.

Para penenun juga mengakui jika cukup rutin mengikuti kegiatan yang digelar pemerintah dalam hal ini dinas UKM. Apalagi biasanya membahas soal cara pemasaran yang baik sehingga produksi tenun dapat terjual lebih banyak.

"Untuk corak kain memang terus kita kembangkan sehingga bisa lebih menarik. Kita juga berharap wisatawan lebih banyak yang berkunjung khususnya pada saat Lovely December," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar